Fiqih Gadaian

6 Des

Fiqih Gadaian

Gadai secara istilah syariat adalah tautsiqah (penguat) hutang dengan benda yang mungkin digunakan utk pembayaran hutan atau dgn harganya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wafat sementara baju besi beliau digadaikan kepada seorang Yahudi. Dan para ulama bersepakat bolehnya gadaian. Dan hikmahnya adalah utk menjaga harta dan menyelamatkannya dari kebinasaan.

Syarat Gadaian:
1. Barang yg digadaikan harus jelas kadar, jenis dan sifatnya.
2. Org yg menggadaikan harus jaiz tasharruf artinya boleh mempergunakan barang, maka keluar darinya anak kecil dan org gelo.
3. Memliki barang yg digadaikan.
4. Atau dengan seidzin pemilik barang tsb.
Diperbolehkan bagi seseorg utk menggadaikan barang miliknya utk hutang org lain.
5. Barang yg digadaikan dapat dijual agar dapat digunakan utk pembayaran hutang.

Dalam hutang piutang, diperbolehkan utk si pemberi hutang mensyaratkan barang gadaian baik sebelum ataupun setelah aqad hutang piutang.

Dan tidak boleh mempergunakan barang gadaian kecuali dgn seizin kedua belah pihak, karena bila barang tsb digunakan oleh si penggadaian maka hilang kegunaan gadaian, dan bila digunakan oleh sipemberi hutang maka ia menggunakan barang yg bukan miliknya, dan itu tdk boleh.

Adapun mengambil manfaat dari barang gadaian, maka sesuai kesepakatan dari kedua belah pihak, bila kedua belah pihak bersepakat utk disewakan atau lainnya boleh. Namun hasil keuntungannya kembali kepada si pemilik barang, karena jika si pemberi hutang yg mengambil keuntungannya, berarti ia mengambil manfaat dari menghutangkan uangnya, dan ini riba.

Sebagai dalam suatu riwayat: “Semua hutang piutang yg menarik keuntungan maka adalah riba”. Hadits itu walaupun lemah namun telah terjadi ijma ulama di atasnya.

Bila yg digadaikan itu berupa hewan atau ladang, maka semua biaya makanannya atau penanamannya ditanggung oleh org yg menggadaikan (sipemilik barang). Karena barang gadaian itu adalah milik si penggadai, maka ia yg bertanggung jawab utk membiayainya.
Namun bila si pemberi hutang ingin mengendarainya, maka diperbolehkan dengan syarat dia yg membiayai kebutuhan barang tsb.

Nabi bersabda: “hewan gadaian boleh dikendarai (oleh sipemberi hutang) dengan nafaqah dia sendiri, dan susunya boleh di minum dgn nafaqah dia sendiri, dan wajib atas org yg menunggangi dan meminum susunya utk mengeluarkan biaya nafkahnya.
Badrusalam: (HR Bukhari).

Sebagian fuqaha berkata: barang gadaian itu ada dua macam:
1. Yang membutuhkan kepada biaya.
2. Tidak memutuhkan biaya.Maksudnya biaya pemeliharaan

Dan yang membutuhkan pembiayaan ada dua macam:
1. Hewan yg dikendarai atau yg diambil susunya. Telah kita jelaskan.
2. Yang tidak dikendarai seperti budak, maka yg seperti ini tidak boleh diambil manfaatnya oleh sipemberi hutang kecuali dgn seizin pemiliknya.
Bila pemiliknya mengidzinkan, maka boleh dgn syarat dia menanggung kebutuhannya.

Adapun yg tidak butuh kepada biaya seperti rumah atai benda berharga, tidak boleh dimanfaatkan oleh sipenerima gadaian (pemberi hutang) karena itu sama dgn menarik keuntungan dari menghutangkan, dan ini riba

Tanya: bagaimana hukumnya menggadaikan emas di bank syariah, yang masih ada biaya penitipan?
Gadaian emas di bank syariah itu jelas riba, karena dia ingin menarik keuntungan tapi dgn nama mudlarabah, ini namanya hilah (tipu muslihat) ala Yahudi.

Tanya: Bank syariah ambil untung dr biaya penitipan emas. Ngambil untungnya ini jelas riba ya stadz
Iya benar begitu.
Di zaman Nabi, gak ada org yg menerima brg gadaian minta uang titipan, ini namanya mencampur adukan dua hukum yg berbeda.

Tanya: Kalau gak ada aqad utang piutang kita simpan barang berharga di SDB (safe deposit box) dan dikenakan biaya sewa SDB msh boleh ya tadz?
Jawab: Itu masuknya ke wadii’ah pak ade, pembahasannya nanti ‎​اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ Allah. Di situ tidak ditemukan makna riba pak ade, hanya sebatas jasa penitipan, kayak penitipan motor dll.

Tanya: Stadz, ana pernah denger dr Ust Zainal. Ada riwayat bahwa seorang sahabat menolak berteduh di tpt org yang dia hutangi. Khawatir hal tsb termasuk riba. Bagaimana kepanjangan riwayat tsb stadz? Berarti kt hrs sangat hati2 dgn hal ini, khawatir terkena riba yg kt ga sadari
Jawab: Ana gak tahu, coba ana cari dulu

Tanya: Kita ga boleh memberatkan si penghutang dgn syarat, misal “jika kamu saya hutangi, hrs antar saya setiap hari ke kantor”. Krn fasilitas tambahan ini termasuk riba. Ini istilahnya apa stadz ? Kita terkadang suka diberikan hadiah dr penghutang, gmn membedakan antara yg benar2 hadiah dgn riba ?

Jawab: Bila tidak ada syarat di awal tidak apapa. Itu masuknya kepada husnul qadla. Yg bermaslah itu bila ada syarat di awal, seperti yg antum katakan

Komentar: Naudzubilah, jadi semua gadai sekarang ini riba ya. Utang ke bang, gadai barang riba, jadi solusi utk cari dana yg cepat bagaimana ya ikhwah?

Jawaban: Harus ada terobosan pak
Naam stadz, bank syariah ternyata juga Yahudi. Serem

Tanya: Ustadz, kalau menerapkan hutang piutang dng akad tolong menolong, hare gene orang2 banyak yg tdk amanah stadz, hatta sudah ngaji. Solusinya apa tuh?
Jawab: Solusinya gadai itu akh lon, kalau dia tidak mau bayar, kita jual barangnya

Stadz, penentuan harga gadai siapa yg lebih berhak. Kalau di Pegadaian ada juru taksir, dan penggadai gak punya hak menentukan harga?
Jawab: Betul

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: