Thoharoh (Bersuci)

24 Nov

Thoharoh (bersuci) menurut istilah syari’at adalah menghilangkan apa apa yang menghalangi sholat berupa hadats atau najis, dengan air atau dengan yang lain, atau menghilangkan hukumnya dengan tanah.
Hadats ada dua macam, yaitu hadats besar dan hadats kecil. Hadats besar yaitu junub, haidl, nifas, dan ini mewajibkan mandi. Sedangkan hadats kecil adalah buang angin, buang air besar dan kecil, dan ini mewajibkan wudlu, berdasarkan hadits :
لَا تُقْبَلُ صَلَاةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ
“Tidak diterima sholat orang yang berhadats sampai ia berwudlu “. (Muttafaq ‘alaih).

Hadats membatalkan sholat dengan ijma’ ulama, adapun najis maka wajib mensucikan diri darinya berdasarkan firman Allah :
“Dan pakaianmu sucikanlah“. (Al Muddatsir: 4). Dan berdasarkan hadits hadits yang memerintahkan untuk bersuci dari najis seperti hadits orang yang di adzab dalam kuburnya karena tidak berhati hati dari air kencing.

Namun para ulama berbeda pendapat; apakah suci dari najis termasuk syarat sah sholat atau tidak? Madzhab Asy Syafi’iyyah berpendapat bahwa ia adalah syarat sah sholat dan ini juga pendapat Abu Hanifah dan Ahmad sebagaimana yang dikatakan oleh imam An Nawawi. Mereka berdalil dengan ayat dan hadits yang telah kita sebutkan tadi, juga berdasarkan hadits :
وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِيْ عَنْْكِ الدَّمَ وَصَلِّيْ
“ Apabila haidl telah pergi, maka cucilah darah darimu dan shalatlah “. (HR Bukhari dan Muslim).

Adapun imam Malik maka ada tiga riwayat dari beliau:
Pertama: jika ia tahu ada najis, maka shalatnya tidak sah, dan jika tidak tahu atau lupa, maka shalatnya sah. Dan ini adalah pendapat lama imam Asy Syafi’i.
Kedua: shalatnya tidak sah, sama saja apakah ia mengetahui atau tidak, atau ia lupa.
Ketiga: Shalatnya sah disertai adanya najis, walaupun ia mengetahui dan sengaja melakukannya. Dan pendapat seperti ini juga dinukil dari ibnu ‘Abbas, Sa’id bin Jubair dan lainnya. Dalilnya adalah hadist Abu Said Al Khudri radliyallahu ‘anhu ia berkata: ’’Ketika Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam shalat mengimami para shahabatnya, tiba-tiba beliau melepaskan dua sendalnya, dan meletakkannya disamping kirinya. Tatkala para shahabat melihat itu, merekapun melepaskan sendal-sendal mereka. Setelah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam selesai dari sholatnya, beliau bersabda: “Mengapa kalian melemparkan sendal-sendal kalian?’’ Mereka menjawab: “Kami melihat engkau melemparkan sendalmu, maka kamipun melemparkannya”. Nabi bersabda:
‎​إِنَّ جِبْرِيلَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَانِي فَأَخْبَرَنِي أَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا
‘’Sesungguhnya Jibril Alaihissalam datang kepadaku, dan mengabarkan bahwa pada sendal tersebut ada qodzar (kotoran)nya ‘’. (HR Abu Dawud dan lainnya).

Dalam riwayat lain: “Padanya ada khobats (najis)‘’.
Sisi pendalilannya adalah bahwa Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam tetap meneruskan shalatnya, kalaulah suci dari najis itu syarat, tentu beliau membatalkan shalatnya dan memulai kembali dari awal.

Namun pendapat pertama (jumhur) menyanggah hadits Abu Sa’id tadi dengan dua sanggahan :
Pertama : Bahwa yang dimaksud dengan qodzar dalam hadits tersebut adalah sesuatu yang menjijikkan seperti ingus, air liur, mani dan sebagainya.
Kedua : atau maksudnya adalah darah yang sedikit, sehingga dimaafkan.

Pendapat yang rajih.
Yang rajih dari pendapat-pendapat tersebut adalah pendapat yang mengatakan bahwa suci dari najis adalah wajib, namun bukan syarat sah shalat, wallahu a’lam.

Adapun dalil dalil yang dikemukakan oleh jumhur hanyalah menunjukkan kepada hukum wajib, namun tidak menunjukkan kepada syarat, karena dalil-dalil tersebut berbentuk perintah dan perintah menunjukkan wajib, sedangkan sesuatu yang wajib tidak mengharuskan ia menjadi syarat sah suatu ibadah.

Asy Syaukani berkata: “sesuatu yang wajib tidak mengharuskan menjadi syarat (sah ibadah), karena penetapan suatu perintah sebagai syarat adalah hukum syar’iah yang harus ditegaskan oleh pemilik syari’ah sebagai syarat, atau dengan menggantungkan keabsahan suatu perbuatan dengan menggunakan alat syarat, atau dengan meniadakan keabsahan suatu perbuatan tanpa adanya perintah tersebut atau dengan meniadakan buah dari perbuatan tersebut, tidak hanya sebatas dengan perintah saja”.

Adapun sanggahan pertama jumhur terhadap hadits Abu Sa’id Al khudri, telah di jawab oleh Ibnu Qayyim dalam ighatsatulahafan, beliau berkata: “penafsiran qodzar dengan sesuatu yang menjijikkan seperti ingus atau sebagainya yang suci, tidaklah benar dari beberapa sisi :
Pertama: Bahwa sesuatu yang menjijikkan tidak bisa disebut khobats.
Kedua: Bahwa yang demikian itu tidak diperintahkan untuk menggosokkannya ke tanah ketika hendak shalat, karena ia tidak membatalkan shalat.

Ketiga: Sandal tidak perlu di lepas dalam shalat bila terkena hal itu (ingus dan sebagainya yang dianggap jijik), karena ia adalah perbuatan tanpa ada keperluan, dan hukumnya paling ringan adalah makruh.

Keempat: Bahwa Ad Daroquthni meriwayatkan dalam sunannya dari riwayat ibnu Abbas, bahwa Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan mengabarkan bahwa padanya ada darah halamah”. Dan halam adalah kutu besar.

‎​Dan yang membantah pendapat jumhur juga adalah perkataan Al Azhari salah seorang ulama bahasa arab, beliau berkata: “Najis adalah qodzar (kotoran) yang keluar dari badan manusia”. Asy Syaukani berkata: “Maka menafsirkan (qodzar) sebagai sesuatu yang menjijikkan yang tidak najis atau najis sedikit yang dimaafkan adalah tahakkum (konyol)”.
Adapun sanggahan jumhur yang kedua, dapat kita jawab dengan riwayat lain yang menyebutkan dengan lafadz khobats, karena para ahli bahasa bersepakat bahwa makna akhbatsain (dua yang khobats) adalah kencing dan tinja.

Tanya: Maaf saya awam bgt nih.. Wudhu itu syarat sah sholat khan ya..? Maksud saya, jika habis mandi junub, tetap hrs wudhu dulu khan kl mo sholat..?
‎​Jawab: Setelah mandi junub gak perlu wudlu lagi sebagaimana dalam hadits Aisyah
Tanya: Syukran stadz.. Tp itu khusus mandi junub aja ya.. Kl mandi biasa (walau praktek mandi nya sama spt mandi junuB) tetep hrs wudhu ya stad..?
Tanya: Syukran stadz.. Tp itu khusus mandi junub aja ya.. Kl mandi biasa (walau praktek mandi nya sama spt mandi junuB) tetep hrs wudhu ya stad..?
Jawab : Praktek mandi junub itu mengandung wudlu akh, jadi itu sudah mencukupi
‎ ​Tanya: Stadz,apakah hrs berwudhu lg kalau pd saat mandi junub kita buang angin atau memegang kmluan,soalnya kita berwudhunya sblm mandi junub
Jawab: Iya ahsan wudlu lagi, klu megang kmaluan nanti ada pembahasan trsendiri insya Allah
‎​Aisyah berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berwudlu lagi setelah mandi janabah”. (HR ibnu Majah)

Bagaimana dgn memegang kemaluan?
‎​Memegang kemaluan telah berselisih padanya para ulama disebabkan adanya dua hadits yang bertentangan, yaitu :
Pertama: Hadits Thalq bin Ali berkata:
سَأَلَ رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَتَوَضَّأُ أَحَدُنَا إِذَا مَسَّ ذَكَرَهُ قَالَ إِنَّمَا هُوَ بَضْعَةٌ مِنْكَ أَوْ جَسَدِكَ
“Seseorang bertanya kepada Rasulullah: “Apakah harus berwudlu apabila seseorang dari kami memegang kemaluannya ?” beliau bersabda: “Ia hanyalah bagian dari anggota tubuhmu”. (HR Ahmad dan lainnya).

Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad, An Nasai, ibnu Hibban, Ad Daraquthni dan yang lainnya dari beberapa jalan dari Qais bin Thalq bin Ali dari ayahnya Thalq bin Ali. Dan Qais bin Thalq ini diperselisihkan oleh para ulama; dilemahkan oleh Abu Hatim, Ahmad, Asy Syafi’I dan Yahya bin Ma’in dalam suatu riwayat, sedangkan ibnu Hibban dan Al ‘Ijli serta Yahya bin Ma’in dalam riwayat ‘Utsman Ad Darimi menganggapnya tsiqah. Sehingga Al Hafidz ibnu hajar menilainya sebagai perawi yang shaduq yaitu perawi yang derajat haditsnya hasan. Maka atas dasar ini hadits ini berderajat hasan. Wallahu a’lam.

Kedua: Hadits Busrah bintu Shofwan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ
“Barang siapa yang memegang kemaluannya hendaklah ia berwudlu”.
Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud, At Tirmidzi dan lainnya dengan sanad yang shahih sesuai dengat syarat Bukhari dan muslim.
Dua hadits di atas tampak saling bertentangan, hadits yang pertama menunjukkan bahwa memegang kemaluan tidak membatalkan wudlu dan sebaliknya hadits kedua, sehingga para ulama berbeda pendapat dalam menyikapinya, sebagian ulama ada yang lebih mengunggulkan hadits Busrah dari hadits Thalq bin Ali seperti imam Al Bukhari dan ada pula yang lebih mengunggulkan hadits Thalq seperti Amru bin Ali Al Fallas, dan kelompok ulama lain berusaha mengkompromikan kedua hadits tersebut dengan pengkompromian yang berbeda pula, namun yang paling kuat -wallahu a’lam- adalah yang dirajihkan oleh syaikhul islam, bahwa orang yang memegang kemaluan disunnahkan untuk berwudlu, dan ini adalah madzhab imam Ahmad dalam suatu riwayat.

​Syaikhul islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Yang tampak kuat adalah bahwa berwudlu karena memegang kemaluan adalah mustahab (sunnah) dan bukan wajib, demikian yang dinyatakan oleh imam Ahmad dalam salah satu riwayat darinya, dengan ini menjadi berkumpul semua hadits dan atsar dengan membawa perintah berwudlu kepada hukum mustahab, dan tidak dianggap menghapus (hadits Thalq bin Ali bahwa) kemaluan adalah sama dengan anggota tubuh lainnya, dan membawa makna perintah kepada hukum sunnah lebih layak dari pada membawanya kepada makna nasakh (menghapus hadits Thalq)”.

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa apabila memegangnya dengan syahwat maka batal wudlunya, dan apabila tidak maka tidak batal wudlunya adalah pendapat yang cukup kuat, namun batasan syahwat yang seperti apa yang membatalkan wudlu ? ini sulit sekali diberikan batasan, karena jika batasan syahwat itu adalah sampai mengeluarkan madzi, maka ini membatalkan wudlu dengan ijma’ para ulama, namun bukan karena sebatas syahwatnya saja, tetapi karena mengeluarkan madzi. Dan jika tidak sampai mengeluarkan madzi, maka tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa sebatas syahwat saja membatalkan wudlu.

Sebab jika karena alasan syahwat saja membatalkan wudlu, maka inipun seharusnya berlaku untuk yang lainnya seperti memandang wanita dengan syahwat, atau memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan syahwat, padahal tidak ada satupun ulama yang menganggapnya sebagai pembatal wudlu. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: