Negara Islam Menjadi Negara Kafir

15 Nov

Perselisihan ulama mengenai negara islam kapan menjadi negara kafir.
Bila kita telah mengetahui bahwa tidak semua yang berhukum dengan hukum islam kafir keluar dri islam, namun disesuaikan dengan keadaannya, maka ketahuilah sesungguhnya kaum muslimin berbeda pendapat mengenai negara islam kapan menjadi negara kafir menjadi lima pendapat :
Pertama : bahwa negeri islam tidak akan menjadi nergeri kafir secara mutlak, ini adlah pendapat ibnu hajar Al Haitami dan beliau menisbatkannya kepada Asy Syafi’iyyah.
Kedua : Negeri islam menjadi negeri kafir dengan diperbuatnya dosa-dosa besar, ini adalah pendapat kaum khowarij dan mu’tazilah.

Ketiga : negeri islam tidak berubah menjadi negeri kafir dengan sebatas dikuasai orang kafir, namun sampai syi’ar-syi’ar islam terputus sama sekali. Ini adalah pendapat Ad Dasuki Al maliki.

Keempat : Negeri islam berubah menjadi negeri kafir dengan dikuasai oleh orang kafir secara sempurna. Ini adalah pendapat Abu hanifah.
Kelima : Negeri islam berubah menjadi negeri kafir apabila dikuasai oleh orang-orang kafir dimana mereka menampakkan hukum-hukumnya, dan ini pendapat Abu Yusuf dan Muhammad bin Al hasan.

‎​Pendapat terakhir ini yang rajih dan paling kuat, berdasarkan beberapa dalil diantaranya hadits ketika Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim pasukan beliau besabda :
… ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ فَإِنْ أَجَابُوْكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى التَّحّوُّلِ مِنْ دَارِهِمْ إِلىَ دَارِ الْمُهَاجِرِيْنَ.
“…dakwahilah mereka kepada islam, jika mereka menjawab maka terimalah mereka dan tahanlah dari mereka kemudian serulah agar hijrah ke negeri muhajirin…” (HR Muslim no 1731).

Disini Rosulullah menyebutnya sebagai negeri muhajirin karena mereka yang menguasai negeri tersebut, maka negeri islam adalah yang dikuasai oleh kaum muslim dimana mereka mampu menampakkan syi’ar-syi’ar islam yang besar seperti melaksanakan sholat jum’at, ‘ied, puasa ramadlan, haji, dikumandangkannya adzan secara bebas dan lain-lain. Dan negeri kafir adalah sebaliknya.

‎​Syaikhul islam ibnu Taimiyah memberikan batasan syari’at mengenai ini, beliau berkata,”Suatu negeri disebut negeri kafir atau negeri iman atau negeri fasiq bukanlah sifat yang tetap namun ia bersifat relatif sesuai dengan keadaan penduduknya.”

Beliau juga berkata,”Negeri itu berubah-ubah hukumnya sesuai dengan keadaan penduduknya, terkadang suatu negeri menjadi negeri kafir bila penduduknya kafir, kemudian menjadi negeri islam bila penduduknya masuk islam sebagaimana keadaan Makkah yang tadinya negeri kafir.”
Dalam hadits Anas ia berkata,” Adalah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyerang apabila tiba waktu adzan, bila terdengar suara adzan maka beliau menahan dan jika tidak beliau menyerang.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits ini adalah dalil yang tegas bahwa adanya sebagian hukum-hukum islam yang tampak, dapat dijadikan tanda sebagai negeri islam karena ia menunjukkan siapa yang menguasai negeri tersebut.
Bila ada yang berkata,” lalu bagaimana di zaman sekarang ini di Amerika, dan negara-negara kuffar lainnya yang dikumandangkan padanya adzan, apakah menjadi negara islam ?” jawabnya tentu tidak karena penduduk disana mayoritas orang-orang kafir dan merekalah yang menguasainya dan dikumandangkannya adzan disana tidak secara bebas tidak seperti di negeri-negeri islam.”

​Fatwa syaikhul islam mengenai negeri maridin.
Negeri maridin adalah negeri islam yang dikuasai oleh orang kafir namun mereka membiarkan kaum muslimin memperlihatkan syi’ar-syi’ar agama islam di sana seperti sebuah negeri islam yang terkenal di Turki dan dikuasai oleh Al Aratiqah selama tiga abad kemudian dikuasai oleh Tartar namun mereka membiarkan kaum muslimin dihukumi oleh Al Aratiqah.

Syaikhul islam berkata mengenai negeri tersebut,” Adapun apakah negeri mereka itu negeri perang (kafir) atau negeri islam maka ia terdiri dari dua makna, tidak sama dengan negeri islam yang berjalan padanya hukum-hukum islam, tidak pula sama dengan negeri kafir yang penduduknya orang-orang kafir, namun ia adalah macam yang ketiga dimana orang islam di dalamnya di perlakukan sesuai dengan porsinya, dan orang yang keluar dari syari’at islam diperangi sesuai dengan porsinya juga.”

‎​Syaikhul islam tidak mengkafirkan pemerintah negeri maridin tidak juga tentaranya padahal mereka memberikan loyalitas kepada orang-orang kafir dan menolong mereka atas kaum muslimin, karena belum terwujudnya illat (alasan) hukum untuk dikafirkan yaitu ridla kepada agama orang-orang kafir itu dan membela mereka karena agama tersebut, dan ini sama keadaannya dengan kisah Hathib bin Abi Balta’ah yang telah kita sebutkan.

Maka cobalah renungkan perkataan-perkataan ulama islam tersebut, mereka sangat berhati-hati untuk memvonis kafir, tidak ada yang berani dan tergesa-gesa kecuali mereka yang sedikit ilmu dan wara’nya. Semoga Allah menunjuki kita kepada jalan kebenaran dan memberi taufiq kepada pemerintah kita untuk berpegang kepada syari’at islam yang mulia ini, Amin.

Pertanyaa dr sebelah stadz: Jadi, jika presiden Indonesia adalah orang non Islam, maka Indonesia berubah menjadi negeri maridin?
Jawab: Dilihat keadaannya, bila kaum muslimin dibebaskan melaksanakan syariat islam, maka iya

​Ustadz, pertanyaan lg: Bagaimana dg subhat, bahwa presiden bukan khalifah yg diberikan wala’ atau baiat kepadanya, lantaran kita bukan hidup di negara yg menganut sistem kekhalifahan?

Sistem kekhalifahan berakhir pada zaman Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, setelah itu berubah menjadi sistem kerajaan, konsekwnsi perkataan dia, bahwa setelah Al Hasan semua raja kafir

Ustadz, kalo ada pemerintahan
, didominasi muslim, negaranya mayoritas muslim, tp menganut demokrasi, liberalisme, melegalkan homoseksual, diikuti ucapan: “ah homoseksual itu gpp lah, itu cuman perbedaan orientasi seksual bukan penyimpangan” kalo suka sama suka ya gpp” bahkan dimasukkan dalam Undang2, bahwa homoseksual dipersilahkan asal suka sama suka.

​ Pertanyaan: Apakah dia telah keluar dari Islam akibat pernyataannya yg mengingkari hukum Allah? Menganggap halal yg diharamkan Allah walau hanya satu hukum: yaitu hukum homoseksual. Atau tetap hrs ditegakkan hujjah? Asumsi: di zaman serba informatif ini tidak mungkin jika ia tidak mengetahui hukum Allah. Bgmn Ustadz?

Apa itu perkataan smua yg duduk dipemerintahan, atau segelintir org? ‎​Utk pukul rata sulit akh. ‎​Kmudian sdh tegak hujjah blum?

‎komentar:
​Kenyataannya adalah: negara tsb sudah menelorkan Undang2 yg bunyinya seperti itu. Dan peraturan itu terus dipertahankan dg keadaan sbg berikut: -setiap anggota parlemen yg kuat keislaman dan keimanannya kpd Allah ingin merubah peraturan itu, melalui mekanisme demokrasi (voting) suara terbanyak, selalu kalah dari suara anggota parlemen yg ingin mempertahankan pasal itu.

Ana yakin, tdk semua anggota pemerintah rela, tapi krn mengikuti sistem yg sulit utk diganti, dan yg dianggap adalah yg memegang kendali pemerintahan.

Jawab: Harus ngobrol langsung akh bayu, klu di bb gak bebas disamping sibuk
Seperti di negara saudi yg membolehkan bank-bank konvensional berkembang di negeri itu, apakah konsekwensinya berarti mereka meyakini kehalalannya? Tentu tidak.

Demikian pula peraturan yg dibuat yg bertentangan dgn syariat karena hasil keputusan dari anggota dewan yg mayoritas org-org jahil bahkan sebagian mereka non muslim. Apakah karena keputusan tsb langsung kita kafirkan presidennya juga dan pemerintahan secara umum??

Sebagaimana juga dahulu khalifah makmun yg mewajibkan keyakinan al qur’an makhluk, bahkan menyiksa para ulama utk meyakininya. Padahal itu adalah aqidah yg kufur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: