MERENUNGI HAKIKAT KUBURAN

15 Nov

Kuburan bukan tempat peristirahatan yang terakhir sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang, namun ia adalah awal persinggahan akhirat, dan kehidupan yang menentukan nasib hamba.

Hani Maula ‘Utsman berkata: “Utsman bin ‘Affan apabila berdiri di sisi kuburan, beliau menangis sampai basah janggutnya, lalu dikatakan kepadanya: “Engkau mengingat surga dan neraka tidak menangis, namun untuk ini engkau menangis? Ia menjawab: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ قَالَ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إِلَّا وَالْقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْهُ.
“Sesungguhnya kuburan adalah awal persinggahan akhirat, jika selamat darinya maka yang setelahnya akan lebih mudah darinya, dan jika tidak selamat maka yang setelahnya lebih berat darinya”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda: “Tidak pernah aku melihat pemandangan yang amat mengerikan kecuali (siksa) kubur lebih mengerikan darinya”. (HR Ibnu Majah).
‎​
Ya, bagi orang yang beriman ia adalah tempat beristirahat dari penatnya kehidupan dunia, Abu Qatadah bin Rib’iyy Al Anshari berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَّ عَلَيْهِ بِجِنَازَةٍ فَقَالَ مُسْتَرِيحٌ وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْمُسْتَرِيحُ وَالْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ قَالَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلَادُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lewat padanya jenazah, beliau bersabda: “Ada yang beristirahat dan ada yang darinya beristirahat”. Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, Siapakah yang beristirahat dan siapakah yang darinya beristirahat? Beliau bersabda: “Hamba yang mukmin beristirahat dari kelelahan dunia dan kepenatannya menuju rahmat Allah, sedangkan hamba yang fajir beristirahat darinya para hamba, negeri-negeri, pepohonan dan binatang”. (HR Bukhari dan Muslim).
‎​
Namun bagi orang fasiq terlebih orang kafir ia adalah tempat yang mengerikan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَأَمَّا الْكَافِرُ أَوْ الْمُنَافِقُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ فَيُقَالُ لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ
“Adapun orang kafir atau munafiq, ia akan mengatakan: “Saya tidak tahu, aku dahulu hanya mengucapkan apa yang diucapkan oleh manusia”. Lalu dikatakan kepadanya: “Kamu tidak mengetahui dan tidak pula membaca!” Kemudian ia dipukul dengan palu besi dengan sekali pukulan diantara dua telinganya, maka ia menjerit dengan jeritan yang didengar oleh (makhluk) yang ada disekitar kuburan kecuali jinn dan manusia”. (HR Bukhari).

Itu semua adalah kenyataan, bukan hanya omong kosong atau dongeng, setiap kita pasti akan meninggal dan dikembalikan kepada Allah Ta’ala, dan setiap kita benar-benar akan melihat balasan perbuatannya.
‎​
Maka kewajiban kita adalah memikirkan apa yang akan kita siapkan untuk hari itu, ketika malaikat Munkar dan Nakir bertanya kepada kita; siapa Rabbmu.. siapa Nabimu.. dan apa agamamu.. sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:
فَأُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّكُمْ تُفْتَنُونَ فِي قُبُورِكُمْ مِثْلَ أَوْ قَرِيبَ لَا أَدْرِي أَيَّ ذَلِكَ قَالَتْ أَسْمَاءُ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ يُقَالُ مَا عِلْمُكَ بِهَذَا الرَّجُلِ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ أَوْ الْمُوقِنُ لَا أَدْرِي بِأَيِّهِمَا قَالَتْ أَسْمَاءُ فَيَقُولُ هُوَ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى فَأَجَبْنَا وَاتَّبَعْنَا هُوَ مُحَمَّدٌ ثَلَاثًا فَيُقَالُ نَمْ صَالِحًا قَدْ عَلِمْنَا إِنْ كُنْتَ لَمُوقِنًا بِهِ وَأَمَّا الْمُنَافِقُ أَوْ الْمُرْتَابُ لَا أَدْرِي أَيَّ ذَلِكَ قَالَتْ أَسْمَاءُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ شَيْئًا فَقُلْتُهُ
“Diwahyukan kepadaku bahwa kamu akan difitnah (diuji) di dalam kuburan seperti atau mendekati fitnah Al Masih Dajjal, akan ditanyakan kepadanya: “Apa ilmumu tentang lelaki ini?” Adapun orang yang beriman atau orang yang yakin akan berkata: “Ia adalah Muhammad utusan Allah, datang kepada kami membawa keterangan dan petunjuk, kamipun menjawab seruannya dan mengikutinya, ia adalah Muhammad 3x”. kemudian dikatakan kepadanya: “Tidurlah dengan tenang, kami telah mengetahui bahwa engkau meyakininya”.

Adapun orang munafiq atau orang yang ragu, ia akan berkata: “Aku tidak tahu, aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, maka akupun mengatakannya”. (HR Bukhari).

Itulah keadaan di kuburan, maka tanyakanlah pada dirimu; apa persiapanmu menuju hari itu? Perbekalan apa yang telah dipersiapkan?? Ataukah dirimu masih dilalaikan dengan mengejar dunia dan perhiasannya?! Padahal harta dunia tidak akan kita bawa ke kuburan.. yang kita bawa adalah amal shalih dan ilmu yang bermanfaat.
Belum tibakah saatnya hati kita merasa takut kepada Allah?? Sampai kapan kita akan terus mengejar dunia dan melupakan kehidupan akhirat?!.. ketika ajal menjemput, disanalah lisan mengucapkan penyesalan.. namun.. penyesalan di waktu itu sudah tidak ada manfaatnya..
‎​
Ziarah kubur..

Saudaraku, bila hati kita masih lalai, kunjungilah sebuah pemuqiman masa depan, di sana engkau akan dikembalikan, dibungkus oleh kain kapan, lalu di masukkan ke liang lahat.. gelap.. sepi.. sempit.. tak ada kawan yang membantu.. tiada pula handai taulan sebagai tempat mengadu. Cobalah renungkan, bukankah engkau akan seperti itu?
“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian, kemudian kepada Kamilah kamu akan dikembalikan”. (Al Ankabut: 57).

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan kita untuk berziarah kubur, agar kita selalu mengingat kehidupan akhirat:
زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ
“Berziarah kuburlah, sesungguhnya ia mengingatkan akhirat”. (HR Ibnu Majah).

Dan ingatlah !! Bila Allah mampu menciptakan kita dikali yang pertama dari sari pati air yang memancar, maka Allahpun mampu membangkitkan kita setelah kematian, dan bagi Allah semua itu adalah mudah, firman-Nya: “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah Dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, Lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati? (Al Qiyamah: 36-40).

Bukankah mudah bagi Allah untuk mengadzab seseorang di dalam kuburnya?! Tentu Allah tidak pernah menzalimi hamba-hambaNya, namun merekalah yang zalim; ni’mat Allah senantiasa turun kepada manusia, namun maksiat dijadikan sebagai kendaraan. Allah telah menurunkan kitab-kitab dan mengutus para Rasul, akan tetapi mereka malah berpaling darinya dan mencari jalan yang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: