Apakah tidur membatalkan wudlu ?

22 Okt

Apakah tidur membatalkan wudlu ?

Para ulama berselisih dalam masalah ini menjadi delapan pendapat, dan yang rajih wallahu a’lam adalah pendapat yang mengatakan bahwa tidur itu membatalkan wudlu secara mutlak berdasarkan beberapa dalil:
1. Hadits Shofwan bin ‘Assal radliyallahu ‘anhu ia berkata:
كَانَ يَأْمُرُنَا إِذَا كُنَّا سَفْرًا أَوْ مُسَافِرِينَ أَنْ لاَ نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ إِلاَّ مِنْ جَنَابَةٍ لَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ.
“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk tidak mencabut khuff selama tiga hari tiga malam ketika buang air besar, buang air kecil dan tidur, kecuali bila mandi janabah (harus dibuka)”. (HR At Tirmidzi, Ibnu Majah dan lainnya).

Dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyamakan tidur dengan buang air besar dan kecil, dan hadits ini mutlak mencakup semua jenis tidur baik sebentar maupun lama, baik berat maupun ringan.

2. Hadits Ali bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu:
إِنَّ السَّهَ وِكَاءُ الْعَيْنِ فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ
“Sesungguhnya dubur itu pengikatnya adalah mata, maka barang siapa yang tidur hendaklah ia berwudlu”.
Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad dalam musnadnya no 887 dari jalan Ali bin Bahr haddatsana Baqiyyah bin Al Walid Al Himshi haddatsani Al Wadliin bin ‘Atha dari Mahfudz bin ‘Alqamah dari Abdurrahman bin ‘Aidz Al Azdiy dari Ali bin bi Thalib dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Qultu: “Sanad hadits ini hasan karena Mahfudz bin ‘Alqamah adalah perawi yang shaduq sebagaimana yang dikatakan oleh Al Hafidz dalam taqribnya, dan Al Wadliin yang rajih adalah perawi yang tsiqah, ia dianggap tsiqah oleh ibnu Ma’in dan imam Ahmad bin Hanbal, dan Baqiyyah walaupun ia perawi mudallis namun ia mengucapkan haddatsana dari Al Wadliin sehingga hilang syubhat tadlisnya”.

Dan hadits ini mempunyai syahid dari hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan diriwayatkan oleh Ad Daraquthni dalam sunannya no 2 dan Ad Darimi juga dalam sunannya no 722 dan yang lainnya dari jalan Baqiyah dari Abu Bakar bin Abi Maryam haddatsani ‘Athiyyah bin Qais Al Kilaa’I dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mata adalah pengikat dubur, apabila mata tertidur maka terbukalah pengikatnya”. Qultu: “Sanad ini lemah karena Baqiyyah ini tsiqah namun mudallis dan meriwayatkan dengan lafadz ‘an dan Abu Bakar bin Abi Maryam ini lemah, dan Baqiyyah dimutaba’ah oleh Al Walid bin Muslim yang juga mudallis, dikeluarkan oleh Ath Thabrani dalam mu’jam kabirnya no 875.

Dan Abu Bakar diselisihi oleh Marwan bin Janah yang meriwayatkan dari ‘Athiyah dari Mu’awiyah secara mauquf dikeluarkan oleh Al baihaqi dalam sunannya 1/118 no 591 dan Marwan bin Janah dikatakan oleh Al Hafidz: “Laa basa bihi”. Oleh karena itu Al Walid berkata: “Marwan lebih tsabit dari Abu Bakar”. Artinya bahwa periwayatan Marwan lebih kuat sehingga yang rajih hadits ini adalah mauquf. Akan tetapi hadits ini menjadi terangkat menjadi hasan karena dikuatkan oleh hadits Ali di atas, dan hadits Ali naik menjadi shahih lighairihi dengan hadits Mu’awiyah ini.

Faidah penting :
Sebagian ulama menuduh Baqiyyah bin Al Walid sebagai perawi yang suka melakukan tadlis taswiyah, namun tuduhan ini tidak benar sebagaimana yang dikatakan oleh ibnu Hibban dalam kitab Al Majruhin 1/201, beliau berkata: “Sesungguhnya Baqiyyah ini diuji oleh murid-muridnya yang menggugurkan perawi-perawi yang lemah dan mentaswiyahnya, maka menempellah (tuduhan tersebut) semuanya kepada Baqiyyah”.
Dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan orang yang tidur untuk berwudlu, dan perintah ini juga bersifat mutlak baik tidur yang berat maupun tidur yang ringan.

Kesepakatan para ulama bahwa orang yang hilang akalnya seperti pingsan dan gila wajib berwudlu bagaimanapun keadaannya.
Ini adalah dalil-dalil yang menunjukkan bahwa tidur membatalkan secara mutlak, namun disana ada dalil-dalil yang menunjukkan bahwa tidur tidak membatalkan wudlu, diantaranya adalah hadits ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma ia berkata:

ثُمَّ نَامَ حَتَّى سَمِعْتُ غَطِيطَهُ أَوْ قَالَ خَطِيطَهُ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ
“…Kemudian beliau tidur sampai aku mendengar suara mendengkurnya, kemudian beliau keluar menuju shalat. (HR Bukhari dan Muslim).

Demikian pula hadits Anas radliyallahu ‘anhu ia berkata:
كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنَامُونَ ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلَا يَتَوَضَّئُونَ
“Adalah para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidur kemudian shalat dan tidak berwudlu lagi”. (Muslim). Dan dalam riwayat lain dijelaskan:
كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْتَظِرُونَ الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ حَتَّى تَخْفِقَ رُءُوسُهُمْ ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلَا يَتَوَضَّئُونَ

“Adalah para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menunggu shalat isya sampai kepala mereka terkantuk-kantuk kemudian mereka shalat dan tidak berwudlu lagi”. (HR Abu Dawud).

Akan tetapi hadits-hadits tersebut tidak dapat mengalahkan kekuatan hadits yang menunjukkan bahwa tidur itu membatalkan wudlu, dari beberapa sisi:
Pertama: Bahwa hadits-hadits tersebut adalah hikayat perbuatan atau disebut juga waqi’atul ‘ain sedangkan waqia’tul ‘ain tidak berlaku umum sebagaimana yang disebutkan dalam ushul fiqih, karena ia mempunyai banyak kemungkinan diantaranya adalah adanya kemungkinan belum adanya perintah untuk berwudlu pada waktu itu lalu kemudian diperintahkan, dan kaidah juga mengatakan: “Apabila sebuah dalil mempunyai beberapa kemungkinan yang sama kuatnya maka tidak bisa dijadikan dalil”.

Kedua: Bahwa hadits-hadits yang membatalkan bersifat qouli (perkataan) sedangkan hadits-hadits yang tidak membatalkan bersifat fi’il (perbuatan) dan kaidah ushul berkata: “Apabila perkataan bertabrakan dengan perbuatan maka lebih didahulukan perkataan”.

Ketiga: Al Khathabi berkata: “Hakikat tidur adalah ketidak sadaran yang berat yang menimpa hati sehingga memutuskannya dari mengetahui perkara-perkara yang bersifat lahiriyah. Sedangkan mengantuk adalah orang yang diberatkan oleh sesuatu yang berat (keinginan tidur yang sangat berat) sehingga mencegahnya untuk mengetahui perkara yang bathin”. Dengan definisi ini kita dapat memahami bahwa hadits ibnu Abbas dan Anas tersebut masuk dalam kategori mengantuk.

Wallahu a’lam.

Tanya:
Ustadz, kalo tidurnya spt pada saat jumatan kita tertidur tapi spt menganguk2 gitu termasuk membatalkan wudhu tdk?
Istilahnya tidur ayam ustadz…..

Jawab: Itu termasuk kategori ngantuk akh, coba antum perhatikan perkataan al khathabi di atas

Tanya: Itu walaupun dah sampai ngorok, tetep itungannya ngantuk stadz? Kadang ada di mesjid pas jumatan, nafasnya lumayan kenceng pas tidur.Kalo dah ampe ngorok gitu brarti dah nyenyak pulas dan hilang kesadaran, batal ya wudhunya kalau liat pembahasan di atas..

jawab: Itu tidur akh, batal wudlunya

Tanya: Apa sebaiknya kalo kita rasa mengantuk berat kita wudhu aja ustadz?
Tanya: Berarti tidur yg membatalkan wudhu bukan krn posisi tidur, yg ana pahami dulu, kalo tidurnya sambil duduk maka ga batal wudunya. Dhoif ternyata..
Jawab: Ada seorg ulama salaf dahulu (lupa namanya) berkata: “Tadinya saya brpendapat bahwa org yg tidur duduk itu tdk batal wudlunya, sampai suatu ketika sdg mndengar khutbah jumat, org disampingku tidur duduk, lalu aku mendengar suara (kentut), aku berkata: “Bangun dan wudlulah kamu telah batal”. Ia berkata: “Demi Allah aku tdk merasa batal”. Aku berkata: “Demi Allah, suara itu hanya keluar darimu”. Semenjak itu aku meralat fatwaku.

Komentar: Ooo…naam ustadz, ralat nya ana ga dapet brarti..

Tanya: Ustadz maaf OOT nih ustadz kalau kita mengkritik pemerintahan via media spt di Facebook or twitter apa termasuk melawan dan memerangi thdp pemerintahan yg sah ustadz? ustadz…
Jawab: Yg sunnah ketika mendengar khutbah adalah menghadapkan wajah ke imam
Jawab: Tidak boleh akh, bukan manhaj ahlussunnah menyebarkan aib penguasa
Tanya: Ustadz, hadits2 yg mngatakan batal wudhu pas tidur sahih, yg mngatakan tdk batalpun sahih, berarti ini mansukh ya stadz?
Jawab: Baca dulu de sampai habis
Komentar penanya: Iya baca ulang, dah faham stadz
Ustadz, hadits yg ibnu abbas : ثُمَّ نَامَ حَتَّى سَمِعْتُ غَطِيطَهُ أَوْ قَالَ خَطِيطَهُ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ
“…Kemudian beliau tidur sampai aku mendengar suara mendengkurnya, kemudian beliau keluar menuju shalat. (HR Bukhari dan Muslim). Lalu dari definisi al Khattabi: Dengan definisi ini kita dapat memahami bahwa hadits ibnu Abbas dan Anas tersebut masuk dalam kategori mengantuk.

Apa ga kontradiksi stadz? عَفْوًا. Krena haditsnya mngatakan tidur smpai mendengkur, tpi definisi dari al Khattabi bilang msih dlm ktegori mngantuk. Afwan
Satu lagi stadz, /strong> dlm pnjelasan di atas: “karena ia mempunyai banyak kemungkinan diantaranya adalah adanya kemungkinan belum adanya perintah untuk berwudlu pada waktu itu lalu kemudian diperintahkan”. Apakah ada qorinah yg mengisyaratkan kepada zhon tsb stadz? Krena disebutkan disitu “kemungkinan”.

Eh :$ satu lagi stadz (maaf nanya trus), kaidah yg mngatakan ” “Apabila sebuah dalil mempunyai beberapa kemungkinan yang sama kuatnya maka tidak bisa dijadikan dalil”, lalu aturannya brarti kedua hujjah baik yg membatalkan dan yg tdk mmbatalkan dua2 tdk bisa dijadikan dalil dong stadz, bagaimana stadz? Atau apakah berlaku penjelasan yg lain pada kaidah ini. عَفْوًا banyak tanya stadz X_X
Jawab: Kan ana sdh jawab bhw itu perbuatan yg masih banyak kemungkinan, sdgkan qaul Nabi jelas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s