Syarat-syarat Takfir Mu’ayyan

18 Okt

Syarat-syarat Takfir Mu’ayyan

Untuk mengkafirkan invidu harus terpenuhi padanya syarat dan hilang penghalangnya. Syaikh Dr Ibrahim Ar Ruhaili hafidzahullah dalam kitabnya mauqif Ahlussunnah menyebutkan empat syarat yang wajib dipenuhi, yaitu :

1. Orang yang melakukan kekafiran telah baligh dan berakal.

Berdasarkan hadits yang terkenal “Diangkat pena dari tiga orang : anak kecil sampai baligh, orang yang tidur sampai bangun dan orang gila sampai waras.” (HR Abu Dawud).

2. Ia melakukannya bukan dengan paksaan.

Karena orang yang dipaksa dimaafkan oleh Allah sebagai firman-Nya :

مَنْ كَفَرَ بِاللهِ مِنْ بَعْدِ إِيْمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإِيْمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِاْلكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ.

“Barang siapa kafir kepada Allah setelah ia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan mereka akan mendapat adzab yang besar.”(An Nahl : 106).

​3. Sudah tegak padanya hujjah

Imam Syafi’I rahimahullah berkata,”Allah mempunyai nama-nama dan sifat yang tidak boleh ditolak, barang siapa yang menyelisihi setelah tegak hujjah kepadanya maka ia kafir, adapun sebelum tegak hujjah maka diberi udzur karena kebodohannya.”

Syaikhul islam rahimahullah berkata,”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Rosul-Nya secara mutlak dan belum sampai kepadanya ilmu yang menjelaskan kebenaran kepadanya, tidak boleh dihukumi kafir sampai tegak padanya hujjah yang siapa menyelisihinya menjadi kafir, karena banyak manusia salah dalam menafsirkan Al Qur’an dan banyak tidak tahu makna-makna Al Qur’an dan Sunnah sedangkan kesalahan yang tidak disengaja dan lupa dimaafkan dari umat ini, dan kufur tidak jatuh kecuali setelah adanya penjelasan.”

Dan syarat tegaknya hujjah adalah memahami hujjah yang disampaikan kepadanya, maka orang yang belum memahami hujjah yang sampai kepadanya belum tegak hujjah kepadanya seperti apabila orang jawa menegakkan hujjah kepada orang cina dengan bahasa jawa, maka sangat lucu bila ada orang menganggap sudah tegak hujjah kepadanya. Syaikh Ibrahim Ar ruhaili menyebutkan banyak dalil yang menunjukkan kepada hal ini dalam kitab beliau mauqif Ahlussunnah 1/206-221.

Hilang darinya syubhat atau tidak muta’awwil.

Muta’awwil adalah orang yang salah dalam memahami nash Al Qur’an atau hadits atau kaidah agama atau suatu alasan yang ia aggap kuat padahal tidak demikian, dan dengan syarat maksud tujuannya adalah mengikuti Rosul shallallahu ’alaihi wasallam bukan mengikuti hawa nafsu.

Muta’awwil tidak boleh dikafirkan tidak pula dianggap fasiq, bahkan ia dimaafkan karena ta’wil adalah salah satu jenis kesalahan dalam berijtihad, firman Allah Ta’ala :

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا.

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan.” (Al Baqarah : 286).

Syaikhul islam ibnu Taimiyah berkata,”Sesungguhnya muta’awwil yang bermaksud mengikuti Rosul shallallahu ‘alaihi wasallam tidak dikafirkan tidak pula dianggap fasiq apabila ia salah dalam berijtihad, dan ini masyhur pada manusia dalam masalah-masalah amaliyah, adapun dalam masalah aqidah kebanyakan manusia mengkafirkan orang yang salah (dalam ta’wilnya), namun pendapat ini tidak pernah dikenal dari para shahabat dan tabi’in seorang pun, tidak pula dari para imam kaum muslimin, ia hanyalah berasal dari ahli bid’ah yang membuat-buat bid’ah dan mengkafirkan orang yang menyelisihinya seperti firqah khawarij, mu’tazilah dan jahmiyyah, dan sebagian pengikut madzhab Malik, Syafi’I, Ahmad dan selain mereka.”

Diantara dalil yang menunjukkan kepada kaidah ini adalah kisah Hathib bin Abi Balta’ah ketika Rosulullah hendak mengirimkan pasukan besar dalam rangka fathu makkah, beliau merahasiakan pengiriman pasukan ini namun Hathib mengirim surat lewat seorang wanita untuk memberitahukan saudaranya disana perihal pengiriman pasukan tersebut, dalam kisah tersebut disebutkan bahwa Umar berkata,” Wahai Rosulullah, orang ini telah mengkhianati Allah dan Rosul-Nya, biarkan aku memenggal lehernya !” Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Wahai Hathib, apa yang membawamu melakukan perbuatan tersebut ? ia menjawab,”Wahai Rosulullah, Aku masih beriman kepada Allah dan Rosul-Nya, akan tetapi saya ingin keluarga dan harta saya terlindungi disana.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Benar, jangan kalian berkata kepadanya kecuali kebaikan.” Umar kembali berkata,”Wahai Rosulullah, ia telah mengkhianati Allah dan Rosul-Nya dan kaum mukminin, biarkan aku memenggal lehernya!” beliau bersabda,”Bukankah ia termasuk orang yang ikut perang badar ? Apa pengetahuanmu, sesungguhnya Allah telah mengetahui mereka dan berfirman,” Silahkan kamu berbuat apa yang kamu suka karena sesungguhnya Aku telah mewajibkan kamu masuk surga.” Air mata Umar berlinang dan berkata,” Allah dan Rosul-Nya lebih mengetahui.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits ini, Umar menganggap perbuatan Hathib sebagi pengkhianatan terhadap Allah, Rosul-Nya dan kaum mukminin yang termasuk kufur akbar, dan pemahaman Umar ini tidak disanggah oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun Nabi memaafkan Hathib dan tidak mengkafirkan tidak pula memenggal lehernya, karena Hathib melakukkan itu disebabkan oleh ta’wil yang salah dan bukan bermaksud menentang Allah dan Rosul-Nya tidak pula berniat untuk berkhianat.

Tanya: Ustadz, seandainya kita berada di posisi Hathib itu, ahsannya berkonsultasi dulu ya dgn Nabi mengenai bagaimana keluarga yg ada di Makkah? Daripada leher terpenggal duluan

Jawab: Seandainya antum berada di posisi Hathib pasti antum melakukan seperti apa yg beliau lakukan

Tanya: Trs gmn kl seorg yg tdnya muslim,tp dia jahil, orgtua dan kluarganya gak pernah mengajarkannya ttg islam n tauhid lalu dia murtad krn menikah dg org kafir atau alasan lainnya..apakah org ini lgsg dihukumi kafir stadz?
Jawab: Klu murtad lain urusannya, dia tetap dihukumi kafir.

Tanya: Tadz pada saat kholifah Ali rodhiyallohu anhu memerangi khawarij stlh ditegakkan hujjah artinya telah hilang darinya syubhat atau tidak muta’awwil ya tadz?

Jawab: Kaum khawarij sdh tegak kpd mereka hujjah, setelah dialog dgn ibnu Abbas

Tanya: Kalau khawarij mutakhirin, apa termasuk yg sudah dpt hujjah Tadz? Ini lebih berbahaya kan?
Jawab: Sebagian sdh tapi ngeyel dan angel

Tanya:Stadz, apakah sunnah yg dijalankan org2 sufi/ahlul bida itu sia2?
Jawab: Tidak sia-sia jika mereka ikhlas

Tanya: Stadz, kt dilarang taqlid pada seorang imam saha. Tp sebagian org mengatakan bahwa manhaj salaf itu lebih condong ke madzhab imam ahmad. Mengapa bs demikian? Apakah krn kt lbh banyak menggunakan referensi dr imam ahmad? Sedangkan imam syafii tdk tll banyak?

Jawab: Condong kpd madzhab itu semua ulama pasti begitu, tapi bukan berarti taqlid. Sekarang ulama mana yg tdk condong kpd salah satu madzhab?

Tanya: Tapi apabila ada seseorang menisbatkan dirinya pd madzab, gmn stadz? Itu dilarang ya? Misal Ahmad Deedat mengatakan bahwa “saya seorang hanafi” atau sebagian org di indonesia blg “saya syafi’I”

Jawab: Bila maksudnya dia tdk keluar dari madzhab tsb itu namanya taqlid dan haram hukumnya. Tapi jika maksudnya, ana lebih merajihkan pokok-pokok (ushul) nya maka ini boleh. Seperti dulu ibnu katsir dinisbatkan kepada madzhab syafii dll

Tanya: Ustadz, kadang ana suka sebel dgn mereka yg “ngaku”nya bermadzab syafii. Tp melalukan banyak bid’ah. Ana dihukumi oleh mereka sbg seorang “hambali” krn tdk mau merayakan maulid dsb. Bolehkah kt mengaku sbg syafii utk tujuan meluruskan mereka yg ngawur ?

Jawab: Boleh, bisa antum katakan bhw madzhab syafii mengharamkan bid’ah karena bid’ah tsb baru muncul di zaman terakhir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: