Syarah Hadis Shahih Bukhori

6 Okt

Untuk pembahan hadits, kita akan mensyarah hadits-hadits shahih Bukhari, namun tidak semua hadits, karena terlalu banyak. Kita mulai dari Bab permulaan wahyu hadits pertama yaitu hadits niat yang masyhur.

Nabi bersabda: Innamal a’maal binniyyaat

Innama: dalam bahasa arab mempunyai makna pembatasan (al hashru).
Al a’maal: bentuk jamak dari ‘amal, dan yg dimaksud amal di sini adalah perbuatan lisan dan anggota badan saja, tidak masuk perbuatan hati, karena perbuatan hati tidak membutuhkan niat seperti cinta, takut dsb.

Dan alif laam dalam al a’maal maknanya istighraq artinya menyeluruh mencakup seluruh amal.

Namun para ulama mengatakan bahwa membersihkan najis tidak membutuhkan niat, bila di kepala kita ada najis lalu terkena air hujan dan bersih dgn sendirinya maka sdh cukup walaupun kita tidak berniat.

Binniyyaat: bi mempunyai makna mushahabah artinya niat itu selalu menemani perbuatan.
Niyyaat jamak dari niyat, secara bahasa artinya keinginan hati, sedangkan secara istilah ada dua macam:
1. Umum: yaitu keinginan hati menuju kpd sesuatu yg sesuai dgn tujuan berupa mndatangkan manfaat atau menolak mudlarat.

Niat seperti ini tidak mungkin terlepas dari perbuatan manusia, krn setiap gerakan manusia pasti di dahului ke inginan, seperti mandi, makan, minum dsb tdk mgkin ada org berkata: saya makan dgn tanpa niat, atau minum dgn tanpa niat kecuali jika dia ngelindur.
Oleh karena itu ibnu Qayyim berkata: “Jika Allah mmbebani kita utk beribadah dgn tanpa niat, pasti itu adalah beban yg mustahil dpt kita lakukan”.
2. Khusus: yaitu niat utk beribadah kpada Allah Ta’ala.

Tempat Niat
Ijma’ ulama menyatakan bahwa niat tempatnya dihati, dan ijma’ ulama juga bahwa mengeraskan lafadz niat adalah bid’ah yg menyesatkan, namun para ulama berbeda pendapat jika niat diucapkan secara sirr, yg shahih itupun trmasuk bid’ah.
Namun sebagian syafi’iyah menyatakan sunnah. Asal pendapat mereka adalah kesalah fahamn dlm memahami perkataan iman Asy Syafii: “Apabila ia berniat haji dan umrah maka mencukupi walaupun tdk dilafadzkan, tidak sama dgn shalat yg tidak sah kecuali dgn mengucapkan”.(Al Majmu’ 3/243).
Difahami oleh Abu Abdillah Az Zubairi bahwa maksud beliau adalah mengucapkan lafadz niat. Namun para pentolan madzhab Syafii menepis bahwa buka itu maksud beliau. Imam Nawawi berkata: “Para shahabat kami berkata: “Orang yg memahami demikian telah salah, maksud imam Asy Syafii mengucapkan dalam shalat bukan niat namun takbiratul ihram”. (Al Majmu’ 3/243).

Ibnu Abil ‘Izz berkata: “imam yg empat tdk pernah mengatakan tidak juga imam Asy Syafii bahwa melafadzkan niyat adalah syarat, tetapi niat itu tempatnya di hati dgn kesepakatan mereka, namun sebagiam kaum terakhir mewajibkan melafadzkan niyat, dan berdalil dgn perkataan Asy Syafii (di atas), An Nawawi berkata: “Ini sebuah kesalahan”. Dan juga menyalahi ijma’ sebelumnya”.(Al Ittiba’ hal 62).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: