Pengertian Hadits Shahih

6 Okt

Hadits shahih adalah hadits yang terpenuhi padanya lima syarat:
1. Bersambung sanadnya, yaitu setiap perawi dari sanad bertemu langsung dengan gurunya dan mengambil hadits darinya.
2. Perawinya adil, dan perawi adil adalah yang memenuhi lima syarat: Islam, baligh, berakal, tidak fasiq dan tidak melakukan khawarim al muruah (adab-adab yang tidak islami).
3. Dlabith (menguasai hadits yang ia riwayatkan). Dan dlabith ada dua macam yaitu: dlabith shadr yaitu perawi hadits hafal hadits yg ia riwayatkan diluar kepala. Dan dlabith kitab, yaitu kitab yang ia miliki selamat dari perubahan, kesalahan penulisan, talqin dan sudah dicek kebenarannya.
4. Tidak syadz, yaitu periwayatan perawi yang tsiqah yang bertentangan dengan periwayatan perawi lain yang lebih tsiqah.
5. Tidak ada illatnya, dan illat adalah penyakit hadits yang tersembunyi yang dapat merusak keabsahan hadits.

Menelusuri Keabsahan Hadits
Tidak semua hadits yang sampai kepada kita adalah hadits yang shahih, namun ada hadits yang shahih dan ada pula hadits yang tidak shahih bahkan dusta atas nama Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka kewajiban seorang muslim adalah berhati-hati dalam menyampaikan hadits jangan sampai ia termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
مَنْ كَذَبَ عَلَيَ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ.
“Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di dalam api Neraka.”

Dan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan akan datangnya orang-orang yang akan berdusta atas nama beliau, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
يَكُوْنُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ دَجَّالُوْنَ كَذَّابُوْنَ يَأْتُوْنَكُمْ مِنَ الأَحَادِيْثِ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوْا أَنْتُمْ وَلاَ آبَاؤُكُمْ فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ لاَ يَضِلُّوْنَكُمْ وَلاَ يَفْتِنُوْنَكُمْ.
“Akan ada di akhir zaman para dajjal dan para pendusta yang membawa kepada kamu hadits-hadits yang tidak pernah kamu dengar tidak juga bapak-bapakmu, berhati-hatilah dari mereka, jangan sampai mereka menyesatkanmu dan memfitnahmu.” (HR Muslim).

Oleh karena itu para ulama sangat berhati-hati dalam menerima hadits terutama setelah munculnya fitnah dan pemikiran-pemikiran yang menyesatkan seperti syi’ah dan khowarij, sehingga mereka tidak mau mengambil hadits dari setiap orang kecuali setelah dipastikan kelurusan aqidah dan ketsiqohannya.

Mujahid berkata,”Busyair Al ‘Adawi pernah mendatangi ibnu ‘Abbas dan menyampaikan kepadanya hadits, ia berkata “Rosulullah shalllahu ‘alaihi wasalla juga bapak-bapakmu, berhati-hatilah dari mereka, jangan sampai mereka menyesatkanmu dan memfitnahmu.”k pernah kamu dengar tidakm bersabda begini, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda… namun ibnu ‘Abbas tidak mau mendengarkan dan memperhatikannya, ia berkata,”Wahai ibnu ‘Abbas, mengapa engkau tidak mau mendengarkan haditsku ? aku menyampaikan kepada engkau hadits dari Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasllam tapi engkau tidak mendengarkannya ?

Ibnu ‘Abbas menjawab,”Dahulu kami apabila mendengar seseorang mengatakan “Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda” mata kami segera tertuju kepadanya dan pendengaran kami siap memperhatikannya, namun ketika manusia telah mengambil dari siapa saja, kami tidak mau mengambil dari mereka kecuali yang kami ketahui saja.”

Muhammad bin Sirin seorang tabi’in berkata,”Dahulu mereka tidak pernah bertanya tentang sanad, namun ketika telah terjadi fitnah mereka berkata,”Sebutkan nama-nama perawimu ! lalu dilihat ; jika ia ahlussunnah maka haditsnya diterima dan jika ia ahli bid’ah maka haditsnya ditolak.”

Sanad hadits kebanggaan umat islam.

Abu Bakar ibnul ‘Arobi berkata,”Dan Allah memuliakan umat ini dengan sanad yang tidak diberikan kepada umat manapun, maka waspadalah untuk meniti jalan Yahudi dan Nashrani (yaitu) kamu membawakan hadits dengan tanpa sanad sehingga kamupun mencabut ni’mat Allah dari dirimu sendiri, mendatangkan tuduhan terhadapmu, dan bersekutu dengan kaum yang dilaknat dan dimurkai oleh Allah dan menunggangi tata cara mereka.”
Syaikhul Islam ibnu Taimiyah berkata,”Ilmu sanad dan periwayatan termasuk yang Allah khususkan untuk umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjadikannya sebagai tangga menuju diroyah (memahami nash). Ahli kitab tidak mempunyai sanad dalam penukilan-penukilan mereka demikian pula ahli bid’ah dari umat ini, sanad hanyalah diberikan kepada ahlisunnah yang Allah agungkan keni’matan kepada mereka, dengan sanad mereka dapat membedakan antara yang shahih dan yang lemah, antara yang bengkok dan yang lurus.
Sedangkan ahlul bid’ah dan orang-orang kafir hanya sebatas menukil dengan tanpa sanad dan menyandarkan agama mereka kepadanya, bahkan mereka tidak dapat membedakan antara haq dan batil padanya”. Beliau juga berkata: “Sanad termasuk keistimewaan umat islam, dan dalam islam ia adalah keistimewaan ahlussunah. Dan kaum syi’ah rafidlah adalah kaum yang sangat sedikit perhatian mereka terhadap sanad, dimana mereka tidak membenarkan kecuali yang sesuai dengan hawa nafsu mereka saja dan menjadikan tanda dustanya (sebuah hadits) bila tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, oleh karena itu Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah berkata: “Ahlussunnah menulis hadits baik yang mendukung maupun yang tidak mendukung, sedangkan Ahlul hawa hanya menulis hadits yang mendukung mereka saja”.
Ahlul bid’ah meniti jalan lain yang mereka ada-adakan lalu menjadikannya sebagai sandaran, dan mereka menyebutkan Al Qur’an dan hadits hanya sebagai tameng saja bukan sebagai sandaran”.
Al Hafidz ibnu Katsir rahimahullah ketika berbicara tentang Iblis; apakah ia termasuk malaikat atau tidak, beliau berkata dalam tafsirnya:
“Telah diriwayatkan dalam masalah ini banyak atsar dari salaf namun kebanyakannya adalah israiliyat yang hendaknya diperiksa keadaannya, karena diantara kabar israiliyat tersebut ada yang dipastikan kedustaannya karena menyalahi kebenaran yang ada pada kita, dan Al Qur’an telah mencukupi semua kabar-kabar umat terdahulu.
Dan kabar-kabar israiliyat itu tidak lepas dari perubahan, penambahan dan pengurangan bahkan telah dipalsukan kabar yang banyak padanya, karena Ahlul kitab tidak mempunyai para hufadz (penghafal ilmu) yang kokoh yang dapat menangkis perubahan yang dilakukan oleh kalangan ekstrim dan pemalsuan yang dilakukan oleh para pemalsu.
Tidak seperti umat Islam ini, ada pada mereka para ulama pilihan yang bertaqwa, yang kokoh keilmuannya dan tajam pandangannya, para penghafal yang mahir yang telah mencatat hadits dan menjelaskan yang shahih dan hasan dari yang dla’if dan munkarnya serta yang palsu, matruk dan dustanya, mereka juga mengenali para pemalsu dan tukang dusta serta perawi-perawi yang majhul dan macam-macam perawi lainnya. Semua itu dalam rangka menjaga hadits nabi dan kedudukan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai penutup para Nabi agar tidak dinisbatkan kepada beliau perkataan yang dusta atau membawakan hadits dari beliau yang tidak pernah beliau ucapkan. Semoga Allah meridlai mereka dan menjadikan surga Firdaus sebagai tempat tinggal mereka”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: