Kaidah Seputar Nama Allah

6 Okt

Kaidah kaidah seputar isim (nama) Allah.
Syeikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam kitabnya Qowa’id al mutsla menyebutkan tujuh kaidah seputar isim Allah, kita akan sebutkan secara ringkas yaitu :

Kaidah pertama : Nama nama (isim) Allah seluruhnya husna.
Husna artinya sampai kepada puncak kebagusan, Allah berfirman (Al A’raaf : 180) karena ia mengandung sifat yang sempurna yang tidak ada kekurangan padanya dari sisi manapun.
Contohnya Al Hayyu yang artinya Maha Hidup, ia adalah salah satu nama Allah yang mengandung makna kehidupan yang sempurna yang tidak didahului oleh ketidak adaan, dan tidak akan hancur selama lamanya, kehidupan yang mengharuskan kesempurnaan sifat berupa ilmu, kekuasaan, mendengar, melihat , dan sifat sifat lainnya.

Dan jika isim Allah itu digandengkan dengan isim lainnya, maka akan menghasilkan kesempurnaan diatas kesempurnaan, contohnya seperti Al ‘Aziz Al Hakiim seringkali Allah menggandengkan dua isim tersebut dalam al qur’an, Al Aziz artinya yang Maha Perkasa yang sempurna keperkasaannya, dan Al Hakiim artinya yang Maha mempunyai hikmah (bijaksana), namun bila dua nama tersebut digandengkan akan menimbulkan kesempurnaan lain yaitu bahwa keperkasaan Allah tidak menunjukkan kepada berbuat dzalim dan bertindak semena mena, akan tetapi dibarengi dengan hikmah yang agung dan kebijaksanaan yang sempurna, dan kebijaksanaan bila dibarengi keperkasaan akan sangat dahsyat pengaruhnya, berbeda dengan kebijaksanaan makhluk yang terkadang ditimpa kelemahan.

Kaidah kedua : semua nama Allah menunjukkan kepada ‘alam (tanda) dan sifat. Tanda (‘alam) dari sisi penunjukkannya kepada Dzat dan sifat dari sisi penunjukkannya kepada makna maknanya. Atas dasar yang pertama maka semua nama Allah adalah sinonim karena menunjukkan kepada satu musamma (yang dinamai) yaitu Allah Azza wa Jalla seperti As Samii’ Al Bashiir, Ar Rahman, Al Hayyu, Al ‘Aziz, Al Hakiim semuanya adalah nama untuk satu dzat yaitu Allah.

Atas dasar yang kedua maka nama nama Allah berbeda dengan yang lainnya, dan setiap nama mempunyai makna yang husus untuknya, Al Hayy berbeda dengan Al ‘Aliim, Al ‘Aliim berbeda dengan Al Qadiir dan seterusnya.

Dari sini kita dapat mengetahui kesalahan kaum asy’ariyah yang hanya menetapkan 20 sifat bagi Allah, karena setiap nama Allah pasti menunjukkan kepada sifat, padahal mereka meyakini bahwa Allah mempunyai 99 nama, berarti ada sekitar 79 nama yang tidak mempunyai arti, misalnya Al Aziiz artinya yang mempunyai sifat izzah (perkasa lagi mulia) dan sifat ini tidak ada dalam 20 sifat yang mereka tetapkan sehingga konsekwensinya mereka menolak sifat ‘izzah bagi Allah dan seterusnya. Maha suci Allah dari apa yang mereka ucapkan.

Kaidah ketiga : nama nama Allah jika menunjukkan kepada sifat muta’addi (yang membutuhkan objek) maka mengandung tiga perkara : pertama, penetapan nama tersebut untuk Allah Azza wa Jalla. Kedua, penetapan sifat yang dikandung oleh nama tersebut. Ketiga, penetapan hukum dan konsekwensinya.
Seperti As Samii’ yang artinya Maha Mendengar, ia adalah nama Allah yang mengandung sifat mendengar dan kita tetapkan hukum dan konsekwensinya yaitu bahwa Allah mendengar segala sesuatu baik yang tersembunyi maupun yang terang terangan.
Sebuah contoh praktek, para ulama berdalil dengan firman Allah dalam surat Al Maidah : 34, untuk menggugurkan hukum hadd atas para penyamun bila mereka telah bertaubat sebelum sampai kepada Qadli, karena Allah mengakhiri ayat tersebut dengan firman Nya “ Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, karena konsekwensi dua nama nama tersebut adalah bahwa Allah telah mengampuni dosa dosa mereka dan menyayanginya dengan menggugurkan hukum hadd atas mereka.

Adapun jika isim itu mengandung sifat yang tidak muta’addi (tidak membutuhkan objek) maka hanya menunjukkan kepada dua perkara : pertama, penetapan nama tersebut untuk Allah. Kedua, penetapan sifat yang dikandung oleh nama tersebut.
Kaidah keempat : penunjukkan nama nama Allah kepada dzat dan sifat Nya adalah dengan cara muthabaqah (kesesuaian), tadlommun (keterkandungan), dan iltizam (konsekwensi).
Contohnya Al Khaliq yang artinya Maha pencipta, secara muthabaqah ia menunjukkan kepada dzat Allah dan sifatnya yaitu menciptakan, secara tadlammun ia menunjukkan kepada dzat Allah saja dan kepada sifat menciptakan saja, dan secara iltizam maka ia menunjukkan kepada sifat ilmu dan kekuasaan karena menciptakan pasti harus dengan ilmu dan kemampuan sebagaimana firman Allah (ATH THALAQ : 12).

Kaidah kelima : nama nama Allah Ta’ala adalah tauqifiyah (harus sesuai dengan dalil).
Maka wajib memberikan nama bagi Allah sesuai dengan yang ditunjukkan oleh Al qur’an dan sunnah, karena akal tidak mungkin mengetahui nama nama apa yang berhak bagi Allah, Allah berfirman (AL ISRA : 36).
Karena memberikan nama kepada Allah dengan apa yang Allah tidak namai diri Nya dengannya adalah sebuah kejahatan terhadap Allah Ta’ala, sehingga kewajiban kita adalah menjaga adab dan hanya mencukupkan diri dengan yang ditunjukkan oleh nash.
Kaidah keenam : nama nama Allah jumlahnya tidak terbatas dengan bilangan tertentu.

Hal ini berdasarkan hadits yang masyhur, Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :
أَسْــأَلُكَ بِكُلِّ اسْــمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ يِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الغَيْبِ عِنْدَكَ (رواه أحمد وابن حبان والحاكم وهو صحيح )
“Aku memohon kepada Mu dengan seluruh nama Mu yang Engkau namai diri Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan dalam kitab Mu atau yang Engkau ajarkan pada salah seorang dari hamba Mu atau yang Engkau sembunyikan dalam ilmu ghaib disisi Mu… (Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Hibban dan Al Hakim, dan ia adalah hadits shahih).
Dan apa apa yang Allah sembunyikan dalam ilmu ghaib tidak mungkin seorangpun dapat menghitungnya tidak pula meliputinya.

Adapun sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam :
إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلاَّ وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الجَنَّة َ(رواه البخاري ومسلم)
“Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan seratus kurang satu nama, barang siapa yang menghitungnya maka ia akan masuk syurga “. (Bukhari dan Muslim).

Makna hadits ini adalah bahwa jumlah tersebut yang dianjurkan untuk dihitung, dimana orang yang menghitungnya akan masuk syurga, sehingga kalimat “ Barang siapa yang menghitungnya…dst berfungsi sebagai penyempurna kalimat sebelumnya dan tidak berdiri sendiri, hal ini sama dengan perkataanmu : saya mempunyai seratus dirham yang aku persiapkan untuk dishodaqohkan, maka tidak menghalangi jika engkau mempunyai dirham dirham lain yang tidak disediakan untuk shodaqoh.
Kaidah ketujuh : penyimpangan terhadap nama nama Allah ada beberapa macam yaitu
Pertama : Mengingkari salah satu nama Allah dan sifat serta hukum yang ditunjukkan oleh nama tersebut, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Jahmiyah dan lainnya.
Kedua : menjadikan nama nama tersebut menunjukkan kepada sifat yang meyerupai sifat makhluk sebagaimana yang dilakukan oleh ahli tasybih.
Ketiga : Memberikan nama untuk Allah dengan nama yang Allah tidak pernah namai dirinya dengannya seperti orang Nashrani menamai Allah dengan bapak dan lainnya.
Keempat : mengambil nama nama Allah untuk berhala, seperti patung Al ‘Uzza dari Al ‘Aziz, Allaat dari al ilaah atas salah satu pendapat dari ahli tafsir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s