Istilah-Istilah Ilmu Hadis

6 Okt

Mushthalah itu isim maf’ul dari ishthalaha artinya istilah maksudnya istilah-istilah ilmu hadits.
Mustholah hadits: Yaitu ilmu yg mmpelajari ttg istilah hadit seperti hadits shahih apa hadits dlaif dsb. Pengertian ilmu mushthalah hadits: Adalah ilmu yg mempelajari pokokpokok dan kaidah mengenal keadaan sanad dan matan apakah dapat diterima atau tidak.
Tema ilmu ini adalah membahas sanad dan matan. Tujuannya: agar dapat membedakan mana yang shahih dan mana yang tidak

Hadits dilihat dari sisi sampainya kepada kita ada dua macam: Mutawatir dan ahad.
Hadits Mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh jumlah yang banyak pada setiap thabaqat (tingkatan) sanad, dan tidak mungkin secara kebiasaan mereka bersepakat utk berdusta.

Syarat-syarat hadits mutawatir:
Pertama: diriwayatkan oleh jumlah yang banyak.
Para ulama berbeda pendapat mengenai berapa jumlah banyak yg disebut mutawatir, sebagian berkata 10, sebagian berkata 20, sebagian lagi berkata 40 dst. Namun yang shahih adalah tidak ada batasan jumlah tertentu sebagaimana yg dirajihkan oleh imam ibnu Taimiyah dan Al Hafidz ibnu Hajar, karena suatu kabar itu menghasilkan ilmu yg pasti tidak hanya ditentukan oleh jumlah saja, namun juga ditentukan oleh kwalitas perawi, sama dengan orang yang makan nasi sepiring dan satu lagi makan daging setengah piring, barangkali daging setengah piring jauh lebih mengenyangkan dibanding nasi sepiring.
Sebagian ulama berkata bahwa jumlah paling sedikit disebut mutawatir adalah lima orang, karena para ulama bersepakat bahwa jumlah empat masih masuk dalam kategori ahad sebagaimana yg dikatakan oleh imam Asy Syafii dan ditekankan oleh Al Qadli Abu Bakar.

Kedua: Jumlah yg byk ini harus ada pada setiap tingkatan sanad.
Artinya tidak hanya ditingkat shahabat saja misalnya, atau ditingkat tabi’uttabiin saja misalnya.

Ketiga: Mustahil secara kebiasaan mereka bersepakat utk berdusta.Artinya banyaknya jumlah tersebut tidak mungkin mereka mengadakan sebuah pertemuan atau muktamar utk membuat sebuah hadits. Karena tempat mereka yang saling berjauhan dan sifat mereka yang jujur dan dipercaya.
Sama seperti jika kita pergi ke semarang misalnya, lalu kita bertemu dgn orang yg shalih dan mengabarkan suatu kabar, kemudian kita pergi ke surabaya, disana kita bertemu dgn orang shalih lainnya dan ternyata mengabarkan kabar yg sama persis, padahal keduanya mungkin tidak saling mengenal atau bertemu, namun melihat keshalihan mereka menjadikan hati kita yakin kebenaran kabar tersebut, bagaimana jadinya bila jumlahnya banyak dan semuanya disifati imam yang sangat masyhur dan terpercaya?!

Keempat: dinukil dengan panca indra.
Artinya para perawi yang meriwayatkan hadits itu mengatakan haddatsana misalnya, atau saya melihat, atau saya mendengar, atau saya meraba. Maka syarat ini mengeluarkan pengabaran yang berasal dari hasil pemikiran akal, seperti pendapat yang mengatakan bahwa alam ini bersifat qidam sebagaimana yg dikatakan oleh para ahli filsafat.

Kelima: pengabaran para perawi tsb harus menghasilkan kepastian. Seperti bila semua penduduk sebuah desa berkata: saya melihat burung gagak. Berbeda jika mereka semua berkata: saya melihat burung sepertinya burung gagak. Maka pengabaran seperti ini tidak menghasilkan kepastian.

Macam-macam hadits mutawatir
Hadits mutawatir terbagi menjadi dua:
1. Mutawatir lafdzi yaitu hadits yang mutawatir lafadz dan maknanya artinya semua perawi meriwayatkan dengan lafadz yg sama. Dan contoh mutawatir lafdzi hanya satu, yaitu hadits:
“Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dalam api Neraka”.
Hadits ini diriwayatkan oleh lebih dari 70 shahabat.

2. Mutawatir maknawi yaitu hadits yang mutawatir maknanya namun diriwayatkan dengan lafadz yg berbeda beda dan di kejadian yg berbeda beda juga. Seperti hadits mengangkat tangan ketika berdoa, hadits ttg adzab kubur, hadits ttg Dajjal dsb.

Hadits mutawatir menghasilkan ilmu dlaruri artinya ilmu yang tidak membutuhkan kepada penelitian lagi, sama dengan pengetahuan kita bahwa es itu dingin atau api itu panas dsb. Namun bukan berarti tidak butuh kepada penelitian sanad dan sifat para perawinya. Wallahu a’lam
Jumlah hadits mutawatir lumayan banyak, namun bila kita bandingkan dengan jumlah hadits ahad maka tidak ada apapanya.

Kitab-kitab yang mengumpulkan hadits hadits mutawatir diantaranya:
1. Al Azhaar Al Mutanatsirah karya imam As Suyuthi.
2. Nadzmul mutanatsir karya Al Kattani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s