Hukum-Hukum Seputar Al Fatihah

6 Okt

Hukum-hukum Seputar Al Fatihah
Ada beberapa hukum yang harus diketahui:

Pertama: Hukum membaca alfatihah dalam shalat.
Para ulama berbeda menjadi dua:
1.Jumhur ulama berpndapat rukun yg tdk sah tanpa membaca al fatihah. Dalilnya hadits: “Tidak sah shalat bagi yg tdk baca al fatihah”. (HR Abu Dawud dll).
2. Abu Hanifah berpendapat sunnah, dasarnya hadits : “..Kemudian bertakbirlah lalu bacalah yg mudah dari Al Qur’an”.
Yg rajih adalah pendapat jumhur, adapun pendapat Abu Hanifah dijawab bahw adalil tersebut bersifat mutlak dan hadits di atas adalah muqayyad, kaidah ushul berkata: bila dalil mutlak bertemu dgn dalil muqayyad maka dalil mutlak dibawa kepada muqayyad.

Kedua: apakah alfatihah dibaca oleh makmum dalam shalat?
Imam Asy Syafii berpendapat wajib membaca alfatihah bagi makmum baik shalat jahriyah maupun sirriyah. Dasarnya hadits: “Tidak sah shalat bagi yg tdk baca al fatihah”. (HR Abu Dawud dll). Di mana hadits ini umum mencakup imam maupun makmum, baik jahr maupun sirr, dan tidak boleh dikhususkan kecuali dengan dalil. Juga berdalil dengan hadits: bahwa Nabi bersabda kpd orang-orang yg mmbaca di belakang imam: “Jangan kamu baca kecuali al fatihah”.(HR Bukhari dalam juznya dan dihasankan oleh At Tirmidzi). Dan pendapat ini dirajihkan oleh Ibnu Katsir dan di zaman ini Syaikh bin Baz rahimahullah.

Sebagian ulama berpendapat bahwa utk shalat jahriyyah tidak disyari’atkan membaca berdsarkan ayat surat Al A’raaf ayat 204, imam Ahmad menyatakan bahwa ayat ini turun mengenai membaca di belakang imam secara ijma’.

Mereka mengatakan bahwa membaca dibelakang imam telah dimansukh sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa Nabi selesai dari shalatnya (shalat shubuh) lalu beliau berkata: “Apakah diantara kamu ada yg membaca bersamaku tadi?” Sesorg berkata: “Iya, saya wahai Rasulullah”. Beliau bersabda: “Saya katakan mengapa saya diselisihi?” Abu Hurairah berkata: “Org-org pun berhenti dari membaca bersama Rasulullah pada shalat jahar, dan membaca secara sirr pada waktu imam membaca secara sirr”. (HR Abu Dawud dll).

Dan pendapat ini dirajihkan oleh Syaikhul islam ibnu Taimiyah dalam majmu’ fatawa 23/309-330). Dan Syaikh Al Bani dalam sifat shalat Nabi. Dan kepada pendapat ini saya condong.

Mengirim Al Fatihah Untuk Orang Lain

Mengirim al fatihah sebagaimana yg dilakukan di zaman ini termasuk bid’ah yg diada-adakan, karena tidak pernah di nukil bahwa Nabi dan para shahabatnya melakukannya tidak pula hgenerasi setelahnya, adapun hadits: Al Fatihah limaa quriat laha (Al Fatihah sesuai niat untuk apa membacanya) adalah palsu. Demikian pula yg dilakukan sebagian org dibacakan kpd org sakit dgn ritual trtentu yg tdk pernah di ajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Tanya: Apakah boleh kita bacakan di gelas yg berisi air? Agar diminum si org sakit tasb ustadz?
Jawab: Ana belum mendapat contohnya dari salafusshalih, namun sebagian ulama ada yg mmbolehkan. Yg lebih hati-hati jauhi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: