Adab-adab Membaca

19 Des

Oleh Ustadz Badrusalam

1. Ikhlash mengharapkan keridlaan Allah semata, dalam rangka menjalankan perintah Allah Ta’ala utk menuntut ilmu.
2. Memilih buku yang paling bermanfaat dan banyak faidahnya.
3. Melihat daftar isi dan isi buku secara global.
4. Membaca buku dgn penuh perhatian dan tadabbur
5. Mencatat faidah-faidah ilmu di buku kecil atau di depan buku.
6. Mengulang bacaan sampai kita faham
7. Jangan melipat kertas utk memberi tanda
8. Bila telah mulai bosan, kita coba ganti dengan buku lain yg memberi semangat seperti buku ttg kisah-kisah ulama dsb

(T) Bagian ke-7 knp tidak boleh Pak Ust?
(J) Itu dianggap tdk adab oleh ibnu jamaah, karena mempercepat kerusakan dan mengganggu kerapihan

(T) Mungkin bagian dari menyayangi buku ya tadz?
(T) Iya, knp ya tadz?
(T) Ana termasuk org yg ga suka melipat buku. Dan merasa bahwa buku itu sudah rusak bila terlipat :$
(T) Ibnu Jamaah itu siapa stadz?
(T) Sampai segitunya ya perhatian ulama dalam memuliakan ilmu..

(J) Ibnu jamaah itu ulama abad 7 an hijriyah. Itulah akh perhatian para ulama thd ilmu. Luarrr biasa

(T)Ana juga kalo minjemin buku selalu bilang jangan melipat kertas…ana beri pembatas buku jika tidak ada talinya
(T) Alasan ana sih sayang aja buku aw kitab bagus2 kok dilipet….baru tahu stadz dg alasan ibnu jamaah😀
(T) Stadz, jika sedang membaca 1 masalah dengan 2 kitab yg berbeda, misal sedang membaca tata cara shalat kitab sy albani dan sy utsaimin…..apakah selesaikan per buku atau setiap bab gantian dibacanya ? ‎​شُكْرًاجَزِيلاً tadz…adzan ashar
(J) Ahsannya kita selesaikan dulu perbuku, atau kita atur jadwalnya..

Syarikah ‘inaan.

19 Des

Oleh Ustadz Badrusalam

Syarikah ‘inaan yaitu persekutuan dalam modal dan usaha dari dua orang atau lebih.
Syarikah ini boleh berdasarkan ijma’ sebagaimana yg dikatakan oleh ibnul Mundzir rahimahullah
Para ulama bersepakat bahwa modal boleh berupa mata uang atau berupa emas dan perak, karena yg trjadi pada zaman Nabi sampai hari ini.
Disyaratkan pada syarikah ini pembagian keuntungan yg jelas seperti 60 : 40 atau berupa prosentase dan lainnya. Dan tidak boleh berupa keuntungan barang tertentu, atau bagian tertentu karena itu adalah ghoror.

Dua Nikmat yang Kebanyakan Manusia Tertipu

19 Des

Oleh Ustadz Mahfudz Umri

Nabi bersabda: “dua nikmat kebanyakan manusia tertipu dg keduanya yaitu: sehat dan waktu luang” HR.Bukhori, attirmidzi, ibnu majah dari sahabat Ibnu Abbas. Fawaid:
1. Kesehatan dan waktu luang adalah nikmat, manfaatkan keduanya untuk ibadah. 2. Orang bisa tertipu dengan kesehatan dan waktu luang.
3. Gunakan sehatnya hati untuk memahami ayat-ayat Alloh, sehat mata untuk melihat kekuasaanNya diantaranya baca al Qur’an, sehat telinga untuk mendengarkan ayat-ayatNya sebagaimana QS. 16:78, jika tidak terancam oleh QS. 7:179.
4. Doa dzikir pagi petang, doa minta sehat badan, pendengaran dan penglihatan karena merupakan wasilah untuk mempelajari ilmu.
5. Rasakan nikmatnya sehat ketika sakit.
6. Waktu yang kita lalui akan ditanya sebagaimana dalam hadits; orang akan ditanya umur dan waktu mudanya untuk apa digunakan.
7. Termasuk kebaikan islam seseorang meninggalkan sesuatu yang tidak ada gunanya.

Kiat-kiat untuk tidak tertipu dengan keduanya:
1. Bandingkan nikmat sehat ketika kita sakit.
2. Bandingkan nikmat waktu luang ketika kita sibuk.
3. Mengatur waktu dengan sebaik2nya.
4. Memilih yang terpenting di antara yang penting.
5. Kikir terhadap waktu.
6. Fahami segalanya dengan pandangan akherat, sebagaimana perkataan Imam Ahmad; bahwa aku ingin setiap orang berniat (mendapat pahala) ketika minum, makan, dan yang lain (Jami’ul ulum wal hikam). 7. Katakanlah: Ya Alloh tidaklah Kau ciptakan semua ini sia-sia Lihat QS. 3:190-191

(T) : Urusan kantorlah yg paling banyak menyita waktu, bgmn agar berfaidah juga utk Akherat? Syukron
Demikian jg dengan keluarga stadz, bagi kami yg bekerja full 1 minggu senin_jumat, kadang gak enak juga di sabtu-ahad sibuk keliling taklim tholibul ilmi, ada aja acara keluarga (arisan dll), shg dengerin radio adalah satu2nya media…mohon nasehatnya stadz, ‎​
(J) : Niat adalah segalanya, sebagaimana dalam kaidah: semua urusan tergantung tujuannya. Misalnya, satu suap yg diberikan kpd istrinya berpahala, termasuk berhubungan dengan istrinya. Maka pandangan agamalah yang merubahnya.

Akhlak kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

18 Des

Oleh ustadz Muhammad Nuzul Fikri, Lc

Salah satu pelajaran dari pembahasan sebelumnya adalah bahwa Sebagai seorang muslim kita tidak hanya dituntut berakhlak baik dengan tetangga, rekan kerja, orangtua dan keluarga kita, namun kita pun dituntut untuk berakhlak yang mulia kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan beliau adalah orang yang paling berhak mendapatkan akhlak mulia yang kita miliki.
Dan yang dimaksud akhlak yang mulia kepada Rasulullah adalah dengan menta’ati apa yang beliau perintahkan, membenarkan apa yang beliau kabarkan, menjauhi apa yang beliau larang, tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa-apa yang beliau syari’atkan/sunnahkan.
Dari hal diatas, salah satu pelajaran yang bisa kita petik adalah bahwa barangsiapa yang baik dengan tetangga/masyarakatnya tapi ia masih phobi mengerjakan bid’ah/ritual ibadah yang tidak ada contohnya dari Rasulullah maka pada hakikatnya ia belum menjadi pribadi muslim yang berakhlak baik.
Marilah qt renungi perkataan yang sangat terkenal yang keluar dari lisan Imam Malik ketika beliau berkat: “Barangsiapa yang membuat/mengerjakan sebuah bid’ah di dalam islam maka dia telah menganggap bahwa Muhammad (Rasulullah) telah mengkhianati risalah (tugas yg ALLAH bebankan d ats pundak beliau)”.
Saya ingin bertanya: Apakah layak dikatakan orang yg berakhlaq mulia sedangkan dia menganggap rasulullah seorang pengkhianat??!!
Oleh karena itu marilah kita memahami akhlaq secara utuh dan tidak menyempitkan maknanya hanya bagi masyarakat saja.
Wallahu a’lam

Ralat yg ke 2:ada yg kurang dr perkataan imam malik,yg utuh adalah:
“Barangsiapa yang membuat/mengerjakan sebuah bid’ah di dalam islam dan ia memandang bid’ah tersebut adalah hal yg baik maka dia telah menganggap bahwa Muhammad (Rasulullah) telah mengkhianati risalah (tugas yg ALLAH bebankan d ats pundak beliau)”.

Fiqih Mandi

13 Des

Oleh Ustadz Badrusalam

Hal-hal yg mewajibkan mandi:
1. Keluarnya mani dgn lezat baik ketika sadar maupun tidur. Dan pembahasan siapa yg disebut junub sudah berlalu, mohon dirujuk kembali.
2. Bertemunya dua kemaluan walaupun gak keluar mani, dan telah kita jelaskan juga batasan bertemunya dua kemaluan pada pembahasan tersebut.
3. Bersih dari haidl dan nifas, berdasarkan firman Allah (Al Baqarah: 222).
4. Kematian. Berdasarkan hadits: bahwa anak wanita Nabi meninggal dunia, beliau bersabda: “Mandikanlah ia 3 atau 4 atau lebih dari itu dengan air dan daun bidara..”(Bukhari Muslim).
5. Orang kafir yg masuk islam. Berdasarkan hadits bahwa Tsumamah masuk islam, maka Nabi menyuruhnya untuk mandi”. (HR Baihaqi, lihat irwa ghalil no 128).
6. Mandi jumat. Berdasarkan hadits: “Mandi hari jum’at adalah wajib atas setiap muslim”. (HR Bukhari).

Mandi-mandi yg disunnahkan:
1. Mandi dihari raya. Ali bin Abi Thalib ditanya ttg mandi, beliau menjawab: “Mandilah tiap hari jika kamu mau”. Ia berkata: “Bukan itu yg saya maksud, tapi maksudnya mandi (yg disyariatkan)”. Beliau menjawab: “Mandi hari jum’at, hari ‘arafah, hari iedul adlha dan iedul fithri”. (HR Baihaqi). Dan sa’id bin Musayyib menganggapnya sebagai sunah di hari raya. (Lihat irwa no 636).
2. Mandi di hari ‘arafah.
3. Mandi utk ihram haji atau umrah. Berdasarkan hadits Zaid bin Tsabit bahwa ia melihat Nabi melepaskan pakaian utk ihram dan mandi”. (At Tirmidzi).
4. Mandi ketika mau masuk kota Makkah. Berdasarkan hadits ibnu Umar bahwa beliau apabila hendak masuk Makkah, beliau memutuskan talbiyah dan bermalam di Dzi Thuwa kemudian shalat shubuh dan mandi, dan beliau menyebutkan bahwa itu dilakukan oleh Nabi”. (Bukhari Muslim).
5. Mandi bagi org yg memandikan mayat. Berdasarkan hadits: “Siapa yang memandikan mayat hendaklah ia mandi dan siapa yg membawanya hendaklah ia berwudlu”. (Abu Dawud).
(T) Ustadz kalau mandi jum’at wajib bersiwak ya stadz? Bagaimana dgn mandi junub apa wajib juga?
6. Mandi bagi yg mau mengulangi jima’. Berdasarkan hadits abu Rafi’ bahwa suatu hari Nabi mensetubuhi semua istrinya dan mandi setiap kali hendak berjima’. Aku berkata: “Wahai Rasulullah mengapa tidak dijadikan satu saja?”
Beliau menjawab: “ini lebih bersih, lebih suci dan lebih thayyib”. (Abu Dawud).
7. Mandi utk wanita istihadlah setiap kali mau shalat, atau utk dzuhur dan ashar, maghrib dan isya dan shubuh.
8. Mandi karena pingsan.
Dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah berkata, “Aku masuk menemui ‘Aisyah aku lalu berkata kepadanya, “Maukah engkau menceritakan kepadaku tentang peristiwa yang pernah terjadi ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang sakit?” ‘Aisyah menjawab, “Ya. Pernah suatu hari ketika sakit Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam semakin berat, beliau bertanya: “Apakah orang-orang sudah shalat?” Kami menjawab, “Belum, mereka masih menunggu tuan.” Beliau pun bersabda, “Kalau begitu, bawakan aku air dalam bejana.” Maka kami pun melaksanakan apa yang diminta beliau. Beliau lalu mandi, lalu berusaha berdiri dan berangkat, namun beliau jatuh pingsan. Ketika sudah sadarkan diri, beliau kembali bertanya, “Apakah orang-orang sudah shalat?” Kami menjawab, “Belum wahai Rasulullah, mereka masih menunggu tuan.” Kemudian beliau berkata lagi, “Bawakan aku air dalam bejana.” Beliau lalu duduk dan mandi. Kemudian beliau berusaha untuk berdiri dan berangkat, namun beliau jatuh pingsan lagi. Ketika sudah sadarkan diri kembali, beliau berkata, “Apakah orang-orang sudah shalat?” Kami menjawab lagi, “Belum wahai Rasulullah, mereka masih menunggu tuan.” Kemudian beliau berkata lagi, “Bawakan aku air dalam bejana.” Beliau lalu duduk dan mandi. Kemudian beliau berusaha untuk berdiri dan berangkat, namun beliau jatuh dan pingsan lagi. Ketika sudah sadarkan diri, beliau pun bersabda, “Apakah orang-orang sudah shalat?” Saat itu orang-orang sudah menunggu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid untuk shalat ‘Isya di waktu yang akhir. (HR. Bukhari no. 687 dan Muslim no. 418)

Rukun mandi
Ada dua, Yaitu niat dan meratakan air ke seluruh tubuh.

Tata cara mandi junub:
1. Mencuci kedua tangan.
2. Mencuci kemaluan.
3. Menepukkan tangan kiri ke tanah, dinding atau dicuci pake sabun.
4. Berwudlu.
5. Menyela-nyelai rambut sampai rata.
6. Menciduk air dgn tgn lalu mengguyurkan ke kepala tiga kali.
7. Mengguyur seluruh tubuh, dgn dimulai anggota yg kanan.
8. Disunnahkan utk digosok.
9. Bila diperlukan, selesai mandi sedikit mundur dan mencuci kaki.

(T) Ustadz untuk mandi jum’at wajib bersiwak gak? Lalu bagaimana utk mandi junub apakah wajib bersiwak stadz?
(T) Stadz, apakah untuk mandi jumat itu sama tata caranya dengan tata cara mandi junub?
(T) Ana pernah baca atau pernah dengar setelah berbekam dan menguburkan org musyrik jg di sunahkan mandi, bener gak tuh stadz?
(J) Setelah berbekam gak tahu, klu setelah menguburkan org musyrik haditsnya shahih, bisa dimasukkan mandi yg disunnahkan (y)
(T) Na’am stadz, nanti coba ana cari2 lagi mandi setelah ber bekam. Syukron stadz.
(T) Dari Aisyah: Rasulullah mandi krn 4 hal, krn junub, krn hari jum’at, krn berbekam, krn memandikan mayat, riwayat abu Dawud.Shohih gak haditsnya?
(J) Dalam sanadnya ada mush’ab bin syaibah, ia layyin haditsnya
(T) Na’am ustadz.
(T) Layyin apa stadz?
(J) Layyin itu lembek
Ada yg menggunakan istilah layyin dan dhaif, apakah kedua istilah ini berbeda secara makna stadz?
(T) Ooo…alhamdulillah mufrod baru, akh agung catet yo..
(J) Layyin itu biasanya kelemahan yg ringan

Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolani

13 Des

Pada akhir abad kedelapan hijriyah dan pertengahan abad kesembilan hijriyah termasuk masa keemasan para ulama dan terbesar bagi perkembangan madrasah, perpustakaan dan halaqah ilmu, walaupun terjadi keguncangan sosial politik. Hal ini karena para penguasa dikala itu memberikan perhatian besar dengan mengembangkan madrasah-madrasah, perpustakaan dan memotivasi ulama serta mendukung mereka dengan harta dan jabatan kedudukan. Semua ini menjadi sebab berlombanya para ulama dalam menyebarkan ilmu dengan pengajaran dan menulis karya ilmiyah dalam beragam bidang keilmuan. Pada masa demikian ini muncullah seorang ulama besar yang namanya harum hingga kini al-Haafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani. Berikut biografi singkat beliau:

Nama dan Nashab
Beliau bernama Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al-Asqalani al-Mishri. (lihat Nazhm al-‘Uqiyaan Fi A’yaan al-A’yaan karya As-Suyuthi hal 45)

Gelar dan Kunyah Beliau
Beliau seorang ulama besar madzhab syafi’i, digelari dengan ketua para qadhi, syaikhul islam, hafizh al-Muthlaq (seorang hafizh secara mutlak), amirul mukminin dalam bidang hadist dan dijuluki syihabuddin dengan nama pangilan (kuniyahnya) adalah Abu Al-Fadhl. Beliau juga dikenal dengan nama Abul Hasan Ali dan lebih terkenal dengan nama Ibnu Hajar Nuruddin Asy-Syafi’i. Guru beliau, Burhanuddin Ibrahim Al-Abnasi memberinya nama At-Taufiq dan sang penjaga tahqiq.

Kelahirannya
Beliau dilahirkan tanggal 12 Sya’ban tahun 773 Hijriyah dipinggiran sungai Nil di Mesir kuno. Tempat tersebut dekat dengan Dar An-Nuhas dekat masjid Al- Jadid. (lihat adh-Dahu’ al-Laami’ karya imam as-Sakhaawi 2/36 no. 104 dan al-badr at-Thaali’ karya asy-Syaukani 1/87 no. 51).
Sifat beliau
Ibnu hajar adalah seorang yang mempunyai tinggi badan sedang berkulit putih, mukanya bercahaya,bentuk tubuhnya indah, berseri-seri mukanya, lebat jenggotnya, dan berwarna putih serta pendek kumisnya. Dia adalah seorang yang pendengaran dan penglihatan sehat, kuat dan utuh giginya, kecil mulutnya, kuat tubuhnya, bercita-cita tinggi,kurus badannya, fasih lisannya, lirih suaranya, sangat cerdas, pandai, pintar bersyair dan menjadi pemimpin dimasanya.

Pertumbuhan dan belajarnya
Ibnu hajar tumbuh dan besar sebagai anak yatim, ayah beliau meninggal ketika ia berumur 4 tahun dan ibunya meninggal ketika ia masih balita. Ayah beliau meninggal pada bulam rojab 777 H setelah berhaji dan mengunjungi baitulmaqdis dan tinggal didua tempat tersebut. Waktu itu Ibnu Hajar ikut bersama ayahnya. Setelah ayahnya meninggal beliau ikut dan diasuh oleh Az-Zaki Al-Kharubi (kakak tertua ibnu hajar) sampai sang pengasuh meninggal. Hal itu karena sebelum meninggal, sang ayah berwasiat kepada anak tertuanya yaitu saudagar kaya bernama Abu Bakar Muhammad bin Ali bin Ahmad Al-Kharubi (wafat tahun 787 H) untuk menanggung dan membantu adik-adiknya. Begitu juga sang ayah berwasiat kepada syaikh Syamsuddin Ibnu Al-Qaththan (wafat tahun 813 H) karena kedekatannya dengan Ibnu Hajar kecil.
Ibnu hajar tumbuh dan besar sebagai anak yatim piatu yang menjaga iffah (menjaga diri dari dosa), sangat berhati-hati, dan mandiri dibawah kepengasuhan kedua orang tersebut. Zaakiyuddun Abu Bakar al-Kharubi memberikan perhatian yang luar biasa dalam memelihara dan memperhatikan serta mengajari beliau. Dia selalu membawa Ibnu Hajar ketika mengunjungi dan tinggal di Makkah hingga ia meninggal dunia tahun 787 H.
Pada usia lima tahun Ibnu Hajar masuk al-Maktab (semacam TPA sekarang) untuk menghafal al-Qur`an, di sama ada seorang guru yang bernama Syamsuddin bin Al-Alaf yang saat itu menjadi gubernur Mesir dan juga Syamsuddin Al-Athrusy. Akan tetapi, ibnu hajar belum berhasil menghafal al-Qur’an sampai beliau diajar oleh seorang ahli fakih dan pengajar sejati yaitu Shadruddin Muhammad bin Muhammad bin Abdurrazaq As-Safthi Al Muqri’. Kepada beliau ini lah akhirnya ibnu hajar dapat mengkhatamkan hafalan Al-Qur’annya ketika berumur sembilan tahun.
Ketika Ibnu Hajar berumur dua belas tahun ia ditunjuk sebagai imam shalat tarawih di Masjidil Haram pada tahun 785H.
Ketika sang pengasuh berhaji pada tahun 784H, Ibnu Hajar menyertainya sampai tahun 786H hingga kembali bersama Al-Kharubi ke Mesir. Setelah kembali ke Mesir pada tahun 786 H Ibnu Hajar benar-benar bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, hingga ia hafal beberapa kitab-kitab induk seperti al-‘Umdah al-Ahkaam karya Abdulghani al-maqdisi, al-Alfiyah fi Ulum al-hadits karya guru beliau al-Haafizh al-Iraqi, al-Haawi ash-Shoghi karya al-Qazwinir, Mukhtashar ibnu al-Haajib fi al-Ushul dan Mulhatu al-I’rob serta yang lainnya.
Pertama kali ia diberikan kesenangan meneliti kitab-kitab sejarah (tarikh) lalu banyak hafal nama-nama perawi dan keadaannya. Kemudian meneliti bidang sastra Arab dari tahun 792 H dan menjadi pakar dalam syair.
Kemudian diberi kesenangan menuntut hadits dan dimulai sejak ahun 793 H namun beliau belum konsentrasi penuh dalam ilmu ini kecuali pada tahun 796 H. Diwaktu itulah beliau konsentrasi penuh untuk mencari hadits dan ilmunya.
Saat ketidakpuasan dengan apa yang didapatkan akhirnya Ibnu Hajar bertemu dengan Al- Hafizh Al-Iraqi yaitu seorang syaikh besar yang terkenal sebagai ahli fikih, orang yang paling tahu tentang mahzab Syafi’i. Disamping itu ia seorang yang sempurna dalam penguasaan tafsir, hadist dan bahasa Arab. Ibnu Hajar menyertai san guru selama sepuluh tahun. Dan dalam sepuluh tahun ini Ibnu Hajar menyelinginya dengan perjalanan ke Syam dan yang lainnya. Ditangan syaikh inilah Ibnu Hajar berkembang menjadi seorang ulama sejati dan menjadi orang pertama yang diberi izin Al-Iraqi untuk mengajarkan hadits. Sang guru memberikan gelar Ibnu Hajar dengan Al- Hafizh dan sangat dimuliakannya. Adapun setelah sang guru meninggal dia belajar dengan guru kedua yaitu Nuruddin Al-Haitsami, ada juga guru lain beliau yaitu Imam Muhibbuddin Muhammad bin Yahya bin Al- Wahdawaih melihat keseriusan Ibnu Hajar dalam mempelajari hadits, ia memberi saran untuk perlu juga mempelajari fikih karena orang akan membutuhkan ilmu itu dan menurut prediksi nya ulama didaerah tersebut akan habis sehingga Ibnu Hajar amat diperlukan.
Imam Ibnu Hajar juga melakukan rihlah (perjalanan tholabul ilmi) ke negeri Syam, Hijaj dan Yaman dan ilmunya matang dalam usia muda himgga mayoritas ulama dizaman beliau mengizinkan beliau untuk berfatwa dan mengajar.
Beliau mengajar di markaz ilmiyah yang banyak diantaranya mengajar tafsir di al-madrasah Al-Husainiyah dan al-Manshuriyah, mengajar hadits di Madaaris al-Babrisiyah, az-Zainiyah dan asy-Syaikhuniyah dan lainnya. Membuka majlis tasmi’
Beliau juga memegang masyikhokh (semacam kepala para syeikh) di al-madrasah al-Baibrisiyah dan madrosah lainnya (lihat ad-Dhau’ al-Laami’ 2/39).

Para Guru Beliau
Al-Hafizh Ibnu Hajar sangat memperhatikan para gurunya dengan menyebut nama-nama mereka dalam banyak karya-karya ilmiyahnya. Beliau menyebut nama-nama mereka dalam dua kitab, yaitu:
1. Al-Mu’jam al-Muassis lil Mu’jam al-Mufahris
2. Al-Mu’jam al-Mufahris
Imam as-Sakhaawi membagi guru beliau menjadi tiga klasifikasi:
a. Guru yang beliau dengar hadits darinya walaupun hanya satu hadits
b. Guru yang memberikan ijazah kepada beliau
c. Guru yang beliau ambil ilmunya secara mudzkarah atau mendengar darinya khutbah atau karya ilmiyahnya.
Guru beliau mencapai lebih dari 640an orang, sedangkan Ibnu Khalil ad-Dimasyqi dalam kitab Jumaan ad-Durar membagi para guru beliau dalam tiga bagian juga dan menyampaikan jumlahnya 639 orang.
Dalam kesempatan ini kami hanya menyampaikan beberapa saja dari mereka yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan keilmuan beliau agar tidak terlalu panjang biografi beliau ini.
Diantara para guru beliau tersebut adalah:
I. Bidang keilmuan al-Qira’aat (ilmu al-Qur`an):
Syeikh Ibrohim bin Ahmad bin Abdulwahid bin Abdulmu`min bin ‘Ulwaan at-tanukhi al-ba’li ad-Dimasyqi (wafat tahun 800 H) dikenal dengan Burhanuddin asy-Syaami. Ibnu Hajar belajar dan membaca langsung kepada beliau sebagian al-Qur`an, kitab asy-Syathibiyah, Shohih al-Bukhori dan sebagian musnad dan juz al-hadits. Syeikh Burhanuddin ini memberikan izin kepada Ibnu Hajar dalam fatwa dan pengajaran pada tahun 796 H.
II. Bidang ilmu Fikih:
1. Syeikh Abu Hafsh Sirojuddin Umar bin Ruslaan bin Nushair bin Sholih al-Kinaani al-‘Asqalani al-Bulqini al-Mishri (wafat tahun 805 H) seorang mujtahid, haafizh dan seorang ulama besar. Beliau memiliki karya ilmiyah, diantaranya: Mahaasin al-Ish-thilaah Fi al-Mushtholah dan Hawasyi ‘ala ar-Raudhah serta lainnya.
2. Syeikh Umar bin Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Abdillah al-Anshori al-Andalusi al-Mishri (wafat tahun 804 H) dikenal dengan Ibnu al-Mulaqqin. Beliau orang yang terbanyak karya ilmiyahnya dizaman tersebut. Diantara karya beliau: al-I’laam Bi Fawaa`id ‘Umdah al-Ahkam (dicetak dalam 11 jilid) dan Takhrij ahaadits ar-Raafi’i (dicetak dalam 6 jilid) dan syarah Shohih al-Bukhori dalam 20 jilid.
3. Burhanuddin Abu Muhammad Ibrohim bin Musa bin Ayub Ibnu Abnaasi (725-782 ).
III. Bidang ilmu Ushul al-Fikih :
Syeikh Izzuddin Muhammad bin Abu bakar bin Abdulaziz bin Muhammad bin Ibrohim bin Sa’dullah bin Jama’ah al-Kinaani al-Hamwi al-Mishri (Wafat tahun 819 H) dikenal dengan Ibnu jama’ah seorang faqih, ushuli, Muhaddits, ahli kalam, sastrawan dan ahli nahwu. Ibnu Hajar mulazamah kepada beliau dari tahun 790 H sampai 819 H.
IV. Bidang ilmu Sastra Arab :
1. Majduddin Abu Thaahir Muhammad bin ya’qub bin Muhammad bin Ibrohim bin Umar Asy-Syairazi al-Fairuzabadi (729-827 H). seorang ulama pakar satra Arab yang paling terkenal dimasa itu.
2. Syamsuddin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ali bin Abdurrazaaq al-Ghumaari 9720 -802 H).
V. Bidang hadits dan ilmunya:
1. Zainuddin Abdurrahim bin al-Husein bin Abdurrahman bin Abu bakar bin Ibrohim al-Mahraani al-Iraqi (725-806 H ).
2. Nuruddin abul Hasan Ali bin Abu Bakar bin Sulaimanbin Abu Bakar bin Umar bin Shalih al-Haitsami (735 -807 H).

Selain beberapa yang telah disebutkan di atas, guru-guru Ibnu Hajar, antara lain:
Al-Iraqi, seorang yang paling banyak menguasai bidang hadits dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan hadits.
Al-Haitsami, seorang yang paling hafal tentang matan-matan.
Al-Ghimari, seorang yang banyak tahu tentang bahasa Arab dan berhubungan dengan bahasa Arab.
A-Muhib bin Hisyam, seorang yang cerdas.
Al-Ghifari, seorang yang hebat hafalannya.
Al-Abnasi, seorang yang terkenal kehebatannya dalam mengajar dan memahamkan orang lain.
Al-Izzu bin Jamaah, seorang yang banyak menguasai beragam bidang ilmu.
Diantara murid beliau yang terkenal adalah:
1. Syeikh Ibrohim bin Ali bin asy-Syeikh bin Burhanuddin bin Zhohiiroh al-Makki asy-Syafi’i (wafat tahun 891 H)
2. Syeikh Ahmad bin Utsmaan bin Muhammad bin Ibrohim bin Abdillah al-Karmaani al-hanafi (wafat tahun 835 H) dikenal dengan Syihabuddin abul Fathi alKalutaani seorang Muhaddits
3. Syihabuddin Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hasan al-Anshari al-Khazraji (wafat tahun 875 H) yang dikenal dengan al-Hijaazi
4. Zakariya bin Muhammad bin Zakariya al-Anshari wafat tahun 926 H
5. Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abu bakar bin Utsmaan as-Sakhaawi asy-Syafi’i wafat tahun 902 H
6. Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Abdullah bin Fahd al-Hasyimi al-‘Alawi al-Makki wafat tahun 871 H.
7. Burhanuddin Al-Baqa’i, penulis kitab Nuzhum Ad-Dhurar fi Tanasub Al-Ayi wa As-Suwar.
8. Ibnu Al-Haidhari.
9. At-Tafi bin Fahd Al-Makki.
10. Al-Kamal bin Al-Hamam Al-Hanafi.
11. Qasim bin Quthlubugha.
12. Ibnu Taghri Bardi, penulis kitab Al-Manhal Ash-Shafi.
13. Ibnu Quzni.
14. Abul Fadhl bin Asy-Syihnah.
15. Al-Muhib Al-Bakri.
16. Ibnu Ash-Shairafi.

Wafatnya
Setelah melalui masa-masa kehidupan yang penuh dengan kegiatan ilmiyah dalam khidmah kepada ilmu dan berjihad menyebarkannya dengan beragam sarana yang ada. Ibnu Hajar jatuh sakit dirumahnya setelah ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai qadhi pada tanggal 25 Jamadal Akhir tahun 852 H. Dia adalah seorang yang selalu sibuk dengan mengarang dan mendatangi majelis-majelis taklim hingga pertama kali penyakit itu menjangkit yaitu pada bulan Dzulqa’dah tahun 852 H. Ketika ia sakit yang membawanya meninggal, ia berkata, “Ya Allah, bolehlah engkau tidak memberikanku kesehatan, tetapi janganlah engkau tidak memberikanku pengampunan.” Beliau berusaha menyembunyikan penyakitnya dan tetap menunaikan kewajibannya mengajar dan membacakan imla`. Namun penyakit tersebut semakin bertambah parah sehingga para tabib dan penguasa (umara) serta para Qadhi bolak balik menjenguk beliau. Sakit ini berlangsung lebih dari satu bulan kemudian beliau terkena diare yang sangat parah dengan mengeluarkan darah. Imam as-Sakhaawi berkata: Saya mengira Allah telah memuliakan beliau dengan mati syahid, karena penyakit tha’un telah muncul. Kemudian pada malam sabtu tanggal 18 Dzulhijjah tahun 852 H berselang dua jam setelah shalat isya’, orang-orang dan para sahabatnya berkerumun didekatnya menyaksikan hadirnya sakaratul maut.
Hari itu adalah hari musibah yang sangat besar. Orang-orang menangisi kepergiannya sampai-sampai orang non muslim pun ikut meratapi kematian beliau. Pada hari itu pasar-pasar ditutup demi menyertai kepergiannya. Para pelayat yang datang pun sampai-sampai tidak dapat dihitung. Semua para pembesar dan pejabat kerajaan saat itu datang melayat dan bersama masyarakat yang banyak sekali menyolatkan jenazah beliau. Diperkirakan orang yang menyolatkan beliau lebih dari 50.000 orang dan Amirul Mukminin khalifah Al-Abbasiah mempersilahkan Al-Bulqini untuk menyalati Ibnu Hajar di Ar-Ramilah di luar kota Kairo. Jenazah beliau kemudian dipindah ke Al-Qarafah Ash-Shughra untuk dikubur di pekuburan Bani Al-Kharrubi yang berhadapan dengan masjid Ad-Dailami di antara makam Imam Syafi’i dengan Syaikh Muslim As-Silmi.

Sanjungan Para Ulama Terhadapnya
Al-Hafizh As-Sakhawi berkata, “Adapun pujian para ulama terhadapnya, ketahuilah pujian mereka tidak dapat dihitung. Mereka memberikan pujian yang tak terkira jumlahnya, namun saya berusaha untuk menyebutkan sebagiannya sesuai dengan kemampuan.”
Al-Iraqi berkata “Ia adalah syaikh, yang alim, yang sempurna, yang mulia, yang seorang muhhadits (ahli hadist), yang banyak memberikan manfaat, yang agung, seorang Al-Hafizh, yang sangat bertakwa, yang dhabit (dapat dipercaya perkataannya), yang tsiqah, yang amanah, Syihabudin Ahmad Abdul Fadhl bin Asy-Syaikh, Al-Imam, Al-Alim, Al-Auhad, Al-Marhum Nurudin, yang kumpul kepadanya para perawi dan
syaikh-syaikh, yang pandai dalam nasikh dan mansukh, yang menguasai Al-Muwafaqat dan Al-Abdal, yang dapat membedakan antara rawi-rawi yang tsiqah dan dhoif, yang banyak menemui para ahli hadits,dan yang banyak ilmunya dalam waktu yang relatif pendek. ” Dan masih banyak lagi Ulama yang memuji dia, dengan kepandaian Ibnu Hajar.
Karya Ilmiyah Beliau.
Al-Haafizh ibnu Hajar telah menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu dan menyebarkannya dengan lisan, amalan dan tulisan. Beliau telah memberikan jasa besar bagi perkembangan beraneka ragam bidang keilmuan untuk umat ini.
Murid beliau yang ternama imam as-Sakhaawi dalam kitab ad-Dhiya’ al-Laami’ menjelaskan bahwa karya tulis beliau mencapai lebih dari 150 karya, sedangkan dalam kitab al-Jawaahir was-Durar disampaikan lebih dari 270 karya.
Tulisan-tulisan Ibnu Hajar, antara lain:
– Ithaf Al-Mahrah bi Athraf Al-Asyrah.
– An-Nukat Azh-Zhiraf ala Al-Athraf.
– Ta’rif Ahli At-Taqdis bi Maratib Al-Maushufin bi At-Tadlis (Thaqabat Al-Mudallisin).
– Taghliq At-Ta’liq.

Oleh Ustadz Abdurrahim Ayyub
Ustadz Kholid Syamhudi

Tafsir Ar Rahman Ar Rahiim

13 Des

Oleh Ustadz Badrusalam

Ar Rahman dan Ar Rahiim dari satu kata yaitu rahima yarhamu rahmatan artinya merahmati, Ar Rahman wazannya fa’laan dan wazan ini biasa digunakan oleh org arab utk menunjukkan kepada sesuatu yg sangat, seperti ghadbaan artinya sangat marah dan hatinya telah dipenuhi oleh kemarahan.
Ar Rahmaan artinya yang sangat penyayang dan dipenuhi kasih sayang.
Perbedaan Ar Rahmaan dgn Ar Rahiim.
Ibnu Qayyim menjelaskan perbedaan antara keduanya, kita ringkas kepada beberapa poin:
1. Ar Rahmaan adalah sifat dan Ar Rahiim adalah perbuatanNya. Seperti firman Allah: “wa kaana bil mukminiin rahiima (Allah rahiim kepada kaum mukminin)”.
Dalam ayat itu tidak dikatakan: rahmaana.
2. Ar Rahmaan lebih kuat maknanya dari Ar Rahiim. Oleh karena itu Allah menyandingkannya dengan makhlukNya yg paling luas. Allah berfirman: “Ar Rahmaan ‘alal ‘arsyi istawaa (Ar Rahman bersemayam di atas Arasy).
Kesesuaiannya adalah: ketika arasy adalah makhluk Allah yg paling besar dan meliputi semua makhluk dibawahnya maka Allah sebutkan nama: Ar Rahmaan yang rahmatNya meliputi segala makhlukNya.

(T) Ustadz, klau rahiim mnunjukkan prbuatan, bgmn dgn awal surat ar rahman: 1. Ar rahmaan. 2. ‘Allamal qur’an. 3. Kholaqol insan 4. ‘Allamahul bayan. Kata2 stelah ar rahman itu mnunjukkan prbuatan smua stadz. Afwan
(J) Penyebutan kata Ar Rahman dalam surat tersebut berbeda dengan penyebutan kata rahiim dalam firman Allah : wa kaan bil mukminiin rahiima”.Ar Rahmaan adalah nama (isim) dan isim itu menunjukkan kepada musamma (yg dinamai) yaitu Allah, jadi firman Allah setelahnya ‘allamal qur’an kembali kepada isim dan musamma, dan setiap isim pasti menenjukkan kepada dua: dzat dan sifat.
(T) Stadz, bagaimana hukumnya dengan memberi tambahan utk nama Allah dengan gusti Allah seperti yg dikatakan oleh orang2 jawa ?
(J) Kata-kata seperti itu masuknya pada bab khabar, boleh selama mempunyai makna yg sempurna. Cuma kata gusti sering digunakan juga utk para raja

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.